Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Awas! Diet Bisa Membuat Anda Stres

Jumat 25 Jan 2019 12:32 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: ABC
Tubuh melepaskan hormon stres yang dapat menyebabkan tubuh menyimpan lemak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dosen nutrisi dan diet di University of the Sunshine Coast, Tara Leong mengatakan diet bebas gula bersifat restriktif. Terdapat daftar makanan yang 'diizinkan' (seperti biji-bijian, blueberry, dan jeruk bali) dan makanan yang 'tidak diizinkan (seperti roti putih, pisang, dan kismis).

"Ini secara tidak sengaja mempromosikan mentalitas diet dan menyebabkan orang yang diet khawatir tidak sengaja mengonsumsi makanan dalam daftar yang 'tidak diizinkan'," ujarnya seperti dilansir di CNN, Jumat (25/1).

Orang yang khawatir tentang makanan cenderung melakukan diet. Ini mungkin karena mereka khawatir secara khusus tentang berat badan mereka atau tentang dampak nutrisi tertentu terhadap kesehatan mereka.

Penelitian menunjukkan diet tidak efektif dalam jangka panjang dan dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang lebih besar dari waktu ke waktu. Otak mengartikan diet dan pembatasan sebagai kelaparan, yang menyebabkan penyimpanan lemak untuk kekurangan di masa depan.

photo

"Diet itu membuat stres. Menanggapi hal ini, tubuh kita melepaskan hormon stres seperti kortisol, yang dapat menyebabkan tubuh menyimpan lemak, terutama di daerah perut," katanya.

Khawatir tentang makanan dapat menyebabkan stres, kegelisahan, dan depresi. Ini menjadi salah satu faktor yang menentukan dari kondisi yang dikenal sebagai orthorexia.

Orthorexia adalah kesibukan luar biasa dengan makan sehat. Penderita orthorexia menghabiskan banyak waktu untuk berpikir dan mengkhawatirkan makanan. Mereka juga menghilangkan makanan yang dianggap tidak murni atau tidak sehat. Beberapa ahli berpendapat perilaku ini merupakan awal atau bentuk kelainan makan

Perkiraan menunjukkan di mana saja antara tujuh dan 58 persen dari populasi mungkin memiliki kondisi tersebut. Tidak ada kriteria diagnostik yang jelas, yang membuatnya sulit untuk mengukur prevalensinya.

Tapi kita tahu 15 persen wanita akan mengalami gangguan makan pada tahap tertentu dalam hidup mereka. Jadi kita perlu memastikan saran nutrisi, betapa pun beritikad baik, tidak mempromosikan atau mendorong gangguan makan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA