Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Berbagai Gangguan Kesehatan Akibat Santap Makanan Cepat Saji

Rabu 14 Nov 2018 05:03 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Ani Nursalikah

Makanan cepat saji atau junk food.

Makanan cepat saji atau junk food.

Foto: pixabay
Semakin banyak masyarakat yang gemar mengonsumsi makanan siap saji.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gerai makanan cepat saji kian menjamur terutama di perkotaan. Menu-menu seperti hamburger dan kentang goreng umumnya dipromosikan dengan foto yang menerbitkan air liur. Alhasil kini semakin banyak masyarakat yang gemar mengonsumsi makanan siap saji.

Padahal, menurut praktisi kesehatan, mengonsumsi makanan siap saji secara rutin atau dalam jumlah banyak tak baik bagi kesehatan. Efeknya mulai dari penurunan kemampuan kognitif sampai kanker. Dikutip dari Tonic Vice, berikut berbagai gangguan kesehatan yang akan dialami jika kita terlalu banyak makan fast food.

Penurunan kemampuan kognitif

Ahli nutrisi asal Atlanta, Marisa Moore, mengingatkan terlalu sering mengonsumsi makana cepat saji dapat menurunkan kemampuan kognitif. "Sudah lama diketahui minyak jenuh bisa berdampak buruk pada hati. Namun ada penelitian yang menyebut minyak jenuh juga memengaruhi fungsi otak dan memori," kata Moore.

Dalam jumlah sedikit minyak jenuh tidal bersifat jahat. Akan tetapi dalam jumlah banyak minyak jenuh dapat membahayakan kesehatan. Apalagi jika kita juga banyak mengonsumsi lemak, gula, dan protein. Studi dari Oregon State University pada 2015 mendemonstrasikan terlalu banyak asupan lemak dan gula menyebabkan perubahan bakteri di usus. Bakteri usus akan kehilangan 'fleksibilitas kognitif' atau kemampuan untuk beradaptasi.

Meningkatkan risiko depresi

Ada menu cepat saji populer yang dinamai Happy Meal. Namun, penamaan itu justru berkebalikan dari efek yang bisa ditimbulkan. Orang yang secara rutin mengonsumsi makanan cepat saji, 51 persen cenderung lebih mudah mengalami depresi.

Mereka juga cenderung menjadi seorang jomlo, punya waktu kerja lebih lama, lebih sedikit makan buah dan sayur, dan merokok. Kesimpulan tersebut diperoleh dari studi di Spanyol oleh Centre for Health Sciences, Department of Clinical Sciences, University of Las Palmas de Gran Canaria.

Menurut Amy Saphiro, seorang nutrisionis di New York, depresi dapat dikurangi dengan asupan vitamin B dan Omega 3. Kedua nutrisi itu tentunya tidak dapat ditemukan pada makanan cepat saji.

Lebih mudah alami obesitas

"Makanan cepat saji tinggi kalori mengandung banyak karbohidrat dan gula, namun minim serat," kata ahli diet Jim White. White menjelaskan terlalu sering melahap fast food bisa memicu resistansi insulin yang berkontribusi pada terjadinya kenaikan berat badan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES