Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Mengenal Bahaya Kanker Penis dan Penyebabnya

Kamis 08 Nov 2018 15:41 WIB

Rep: Nora Azizah / Red: Ichsan Emrald Alamsyah

penis pria (ilustrasi).

penis pria (ilustrasi).

Faktor tidak disunat menjadi risiko utama terhadap kanker penis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kanker penis memang tidak terlalu umum diketahui. Biasanya, kanker prostat atau paru-paru menjadi yang paling sering menyerang pria. Namun ternyata kanker penis sama berbahayanya dengan yang lain.

Dilansir melalui Men's Health, jika laki-laki memiliki riwayat tidak disunat atau mempunyai kutil dan teruji positif HPV maka sebaiknya perlu waspada. Berdasarkan analisa seorang ahli urologi ada beberapa poin kunci yang harus diketahui setiap pria mengenai kanker penis.

Di Amerika Serikat (AS) pengidap kanker penis relatif sangat sedikit, yakni kurang dari satu persen dari semua jenis kanker. Namun secara global, khususnya di negara-negara tanpa sumber daya perawatan kesehatan yang memadai, tingkat diagnosisnya mencapai 10 sampai 20 persen.

Faktor tidak disunat menjadi risiko utama terhadap kanker penis. Pria dengan kulup yang utuh hampir dua kali lipat lebih berisiko terkena kanker penis. Hal ini karena kondisi yang dikenal phimosis, yakni kulit khatan sulit untuk ditarik sepenuhnya.

Akibat tidak dibersihkan secara rutin area kulup bisa menjadi zona berbahaya tempat bersarangnya virus. Para peneliti mencoba mengamati implikasi kesehatan yang signifikan dari sunat. Hasilnya, negara-negara dengan riwayat yang melakukan sunat memiliki tingkat penyakit pada penis lebih rendah.

Kemudian, kanker penis biasanya lebih umum terdiagnosa pada pria dengan usia lanjut. Pria berusia di atas 60 tahun lebih berisiko terkena kanker penis. Hal ini disebabkan risiko pengembangan phimosis meningkat. Terlebih pula bila pria tersebut tidak disunat.

Kanker penis memiliki gejala paling umum, yakni perubahan warna kulit. Misalnya, muncul semacam kutil dan tidak memiliki rasa sakit. Kemudian ada semacam lesi yang terinfeksi, dan bentuknya mirip dengan penyakit herpes. Lesi ini cukup menyakitkan dan disertai demam.

Di AS, kanker penis bisa masuk dalam tahap penyembuhan 80 hingga 90 persen. Strategi pengobatan biasanya dimulai dengan melakukan biopsi. Ads dua jenis operasi yang dilakukan, yakni operasi penularan penis dan menghilangkan kelenjar penis.

Tujuan dari perawatan dengan penectomy parsial adalah mempertahankan panjang penis sehingga tetap bisa buang air kecil berdiri. Apabila tidak memungkinkan maka lebih baik mengangkat seluruh bagiannya. Kemoterapi topikal juga dilakukan untuk mempertahankan penis.

Jika pada tahap dimana kanker bisa sepenuhnya direksesi maka prognosisnya bisa sangat baik. Namun bila terjadi metastasis prospeknya menjadi kurang optimistis. Tujuan para ahli urologi adalag untuk menangkap penyakit sedini mungkin. Itu sebabnya pemahaman mengenai kanker penis harus diberikan lebih awal. n

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES