Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Studi: Pola Hidup Ayah Pengaruhi Kondisi Keturunannya

Selasa 23 Okt 2018 16:49 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Warga menggunakan alat olahraga fitness di Komplek GOR Rawamangun, Jakarta, Ahad (9/4).

Warga menggunakan alat olahraga fitness di Komplek GOR Rawamangun, Jakarta, Ahad (9/4).

Foto: Republika/ Wihdan
Studi memberi harapan ayah yang berolahraga memiliki anak yang lebih sehat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Faktor genetik seringkali dihubung-hubungkan antara orang tua dengan anaknya. Entah faktor itu terkait bentuk fisik, kemiripan wajah pada manusia.

Begitu juga pada hewan. Jamak diketahui, jika pola makan orang tua, baik jantan maupun betina berpengaruh pada kondisi calon anak mereka.

Kali ini para peneliti dari Ohio State University College of Medicine di Columbus mencoba melihat pengaruh tersebut melalui tikus percobaan. Contoh hasilnya, tikus jantan yang sehat, cenderung menghasilkan sperma bagus dan juga keturunan yang sehat.

Dilansir Sciencemag, Selasa (23/10), para ilmuwan sudah tahu bahwa kebiasaan atau pola makan orang tua yang buruk dapat mempengaruhi keturunan mereka. Ibu yang mengalami obesitas selama kehamilan, misalnya, melahirkan anak-anak yang lebih cenderung menjadi gemuk saat dewasa dan rentan penyakit metabolik, seperti penyakit kardiovaskular. 

Studi lain menemukan bahwa tikus jantan yang memakan bayam tinggi lemak menghasilkan keturunan yang tidak bereaksi secara normal terhadap glukosa, yang merupakan ciri khas diabetes tipe dua. Para peneliti pun membiarkan tikus jantan dengan pola makan yang kaya lemak selama tiga pekan. Di samping itu, tikus diberi fasilitas aktivitas fisik untuk berolahraga sebagai bagian pola hidup sehat.

Satu kelompok tikus memiliki akses untuk menjalankan roda, berlari hampir 6 kilometer rata-rata per malam. Sedangkan kekompok lainnya dibiarkan santai dengan hidangan makanan.

Setelah mengambil sampel sperma mereka, para peneliti membiarkan tikus yang tersisa untuk kawin. Peneliti melacak keturunan yang dihasilkan sampai mereka berumur satu tahun atau sekitar usia paruh baya untuk seekor tikus. 

Meskipun keturunan dari tikus yang suka berolahraga tidak olahraga, metabolisme-nya cukup kuat karena mewarisi kesehatan ayahnya. Para peneliti menduga metabolisme ini diturunkan melalui molekul RNA kecil dalam sperma. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES