Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Pemerintah Khawatir Wabah Rubela Bisa Terjadi

Selasa 23 Oct 2018 00:11 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

Petugas kesehatan memberikan vaksin Measles Rubella (MR) kepada siswa saat Kampanye Imunisasi Campak dan MR di SMPN 9, Bandung, Jawa Barat (ilustrasi)

Petugas kesehatan memberikan vaksin Measles Rubella (MR) kepada siswa saat Kampanye Imunisasi Campak dan MR di SMPN 9, Bandung, Jawa Barat (ilustrasi)

Foto: ANTARA
Capaian imunisasi MR yang ditargetkan pemerintah jauh dari sasaran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) khawatir wabah penyakit rubela bisa terjadi. Alasannya, cakupan imunisasi campak rubela (measles rubella/MR) hingga akhir Oktober 2018 tidak memenuhi target 95 persen.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono mengatakan, meski pelaksanaan MR baru berakhir di 31 Oktober 2018, imunisasi MR disebut tidak memenuhi target. Sebab tren capaian cakupan perpanjangan pelaksanaan imunisasi MR  di 28 provinsi di luar Jawa diprediksi hanya sekitar 70 persen secara nasional.

Ia menyebut keraguan masyarakat mengenai isu kehalalan imunisasi MR membuat cakupan imunisasi MR tidak bisa melampaui target Kemenkes sebesar 95 persen.  "Jika target cakupan imunisasi meleset, wabah penyakit rubela yang menyebabkan kecacatan pada janin atau Congenital rubella syndrome (CRS) dan bisa menyebabkan bayi lahir cacat," katanya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, di Kemenkes, Jakarta, Senin (22/10).

Ia menyebut setiap tahun sekira 5 juta perempuan Indonesia hamil dan penularan rubella terbanyak terjadi di trisemester pertama. Ia menambahkan, jika dihitung trisemester satu sebanyak sepertiga total ibu hamil atau sebanyak 1,5 juta ibu hamil dan mereka tersebar 40 persen di luar Jawa dan 60 persen diluar Jawa.

"Maka kalau 40 persen perempuan hamil berada di luar Jawa maka kira-kira ada 500-600 ribu ibu hamil di luar Jawa dan kalau mereka tertular rubela ya tahun depan 'panen' penyakit rubela dan bisa kejadian luar biasa (KLB)," ujarnya.

Ia menambahkan, rubela bisa saja tidak langsung terjadi dalam satu waktu karena penyebaran penyakit tersebut membutuhkan waktu.

Sebelumnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan bayi yang lahir atau anak-anak di luar Pulau Jawa akan mengalami kecacatan akibat tertular virus rubela jika cakupan imunisasi MR tak memenuhi target. Sekjen Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, virus rubela termasuk cepat menular dan menyebarnya dari manusia ke manusia termasuk ibu hamil muda. Akibatnya si anak yang baru lahir bisa mengalami kecacatan.

"Kecacatannya macam-macam seperti mata buta, telinga tuli, jantung bocor, hingga otak kecil. Cacat itu seumur hidup," katanya.

Tak hanya itu, kata dia, kelompok usia 9 bulan sampai 15 tahun merupakan kelompok usia paling banyak terkena penyakit ini. Jadi, ia meminta semua pihak bersiap-siap karena wabah rubela akan kembali terjadi jika imunisasi tak memenuhi target dan membuat anak terlahir cacat.

Berdasarkan data Kemenkes, cakupan imunisasi MR secara nasional masih 63,69 persen hingga Senin (22/10) pukul 15.00 WIB. Realisasi pemberian perpanjangan imunisasi MR masih jauh dari target yaitu 95 persen. Adapun provinsi yang cakupan imunisasi MR terendah yaitu Aceh yaitu 8,74 persen dan cakupan tertinggi Papua Barat yaitu 98,76 persen.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA