Wednesday, 15 Safar 1440 / 24 October 2018

Wednesday, 15 Safar 1440 / 24 October 2018

Depresi dan Trauma Bisa Picu Penuaan Dini

Kamis 11 Oct 2018 12:02 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Depresi. Ilustrasi

Depresi. Ilustrasi

Foto: Sciencealert
Efek penuaan dini lebih signifikan pada mereka yang alami trauma akibat pelecehan

REPUBLIKA.CO.ID, AMSTERDAM -- Selain berdampak terhadap kesehatan mental, depresi dan trauma ternyata juga bisa memicu penuaan dini. Fakta tersebut terungkap dalam studi yang dilakukan Laura Han, peneliti dari Pusat Medis Universitas Amsterdam, Belanda.

Han dan koleganya menemukan bahwa DNA dari pengidap depresi berat rata-rata delapan bulan lebih tua dibandingkan mereka yang tidak mengidap depresi. Efek penuaan dini juga lebih signifikan pada mereka yang mengalami trauma akibat kekerasan atau pelecehan.

Baca Juga

Untuk mendapatkan simpulan tersebut, Han beserta timnya memeriksa DNA dari 811 orang pengidap depresi dan 319 orang yang sudah dipastikan tidak mengidapnya. Seluruh peserta penelitian terdaftar di Pusat Studi Depresi dan Kecemasan di Belanda.

Dengan menggunakan sampel darah, para peneliti memeriksa bagaimana DNA peserta berubah seiring bertambahnya usia. Studi ini mengungkapkan bahwa perubahan epigenetik atau perubahan ekspresi gen terjadi lebih cepat pada orang dengan depresi.

Dalam beberapa kasus depresi berat, usia biologis pengidap depresi bisa 10–15 tahun lebih tua dari usia kronologisnya. Studi juga menemukan bahwa pengidap trauma rata-rata memiliki usia biologis 1,06 tahun lebih tua daripada peserta yang tidak mengalami trauma.  

"Fokus utama kami adalah 'jam epigenetik', pola modifikasi DNA tubuh yang menjadi indikator usia biologis. Jam ini tampaknya berjalan lebih cepat pada mereka yang mengidap depresi dan sering merasa tertekan," ungkap Laura Han.

Dia menyoroti pentingnya terapi dini untuk depresi dan trauma untuk mencegah dampak jangka panjang yang merugikan. Namun, Han juga mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut dan mendalam tetap diperlukan untuk memperkuat temuan. 

Hasil studi tersebut telah dipresentasikan di konferensi "European College of Neuropsychopharmacology" di Barcelona, Spanyol. Temuan pun dipublikasikan di American Journal of Psychiatry, dilansir dari laman Medical News Today.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES