Wednesday, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 January 2019

Wednesday, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 January 2019

Benarkah Daging Kambing Pemicu Tekanan Darah Naik?

Selasa 21 Aug 2018 10:13 WIB

Red: Ani Nursalikah

Salah satu olahan daging kambing, satai kambing.

Salah satu olahan daging kambing, satai kambing.

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Garam dengan kadar tinggi juga bisa menjadi penyebab strok yang kadang tak orang sada

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hidangan berbahan dasar daging kambing menjadi salah satu yang identik dengan Hari Raya Idul Adha. Namun, benarkah konsumsi jenis daging ini bisa meningkatkan tekanan darah secara mendadak?

"Daging kambing dibandingkan dengan daging lain berpotensi meningkatkan tekanan darah secara mendadak," ujar spesialis saraf RSCM yang berfokus juga pada kasus strok, Amanda Tiksnadi belum lama ini.

Menurut dia, seringkali pada acara-acara di Indonesia, seperti Idul Adha yang banyak menghidangkan makanan berjenis kari dan menggunakan daging kambing, ditemukan kejadian strok akut. Sebenarnya, daging kambing bukan satu-satunya pencetus. Bahan makanan dalam masakan seperti garam (yang kadarnya tinggi) bisa menjadi penyebab strok yang kadang tak orang sadari.

"Mungkin bukan hanya pengaruh dari daging kambingnya sendiri, tetapi dari berbagai makanan lain, karena otomatis mengandung garam sehingga rasa lebih asin. Tingginya kadar natrium dalam garam menyebabkan retensi air dalam tubuh, sehingga volume pembuluh darah jadi penuh (terisi cairan)," kata Amanda. 

"Akibatnya, tekanan darah meningkat. Bila pada dasarnya orang-orang tersebut sudah mempunyai penyakit dasar di mana pembuluh darahnya tidak elastis, karena berbagai faktor misalnya ada sumbatan dan lainnya, akan sulit dikompensasi oleh tubuh," ujar dia. 

Pembuluh darah yang elastis penting untuk menyesuaikan perubahan dari jumlah cairan atau tekanan darah dalam intravaskuler. Banyaknya plak dalam pembuluh darah, faktor penuaan menjadi faktor yang mengurangi elastisitas pembuluh darah.

"Dalam beberapa kasus, seperti penuaan, banyak plak, banyak timbunan dan lainnya, bisa menyebabkan elastisitas pembuluh darah akan berkurang, jadi dia keras (sulit elastis). Sedangkan karena kadar garam tinggi yang menyebabkan penumpukan cairan terpaksa masuk ke dalam pembuluh darah, tidak terakomodasi sehingga menjadi pecah. Lalu, timbullah gejala strok. Kalau di koroner, serangan jantung akut atau di ginjal," ujar Amanda.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA