Monday, 14 Muharram 1440 / 24 September 2018

Monday, 14 Muharram 1440 / 24 September 2018

Benarkah Makanan Sehat Ini Menyehatkan?

Rabu 15 August 2018 09:08 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Wanita menuang saus ke atas sayuran salad.

Wanita menuang saus ke atas sayuran salad.

Foto: EPA
Upaya menghindari karbo sama sekali justru tidak menguntungkan bagi tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gaya hidup sehat mulai dijalankan oleh banyak orang saat berbagai penyakit mulai bermunculan secara ganas. Pilihan makanan menjadi utama karena kebanyakan penyakit tersebut dipicu oleh faktor ini.

Makanan-makanan yang diklaim sehat mulai dilirik dan dijadikan pola konsumsi sehari-hari. Banyak yang hanya mengikuti saja, tanpa tahu apakah itu benar-benar sehat atau hanya klaim semata.

Dikutip dari Reader's Digest, Rabu (15/8), berikut ini konsumsi makanan yang dianggap sehat namun ternyata tidak sesuai dengan klaim yang digaungkan. Penasaran?

Saus Salad Rendah atau Bebas Lemak

Studi Universitas Purdue tahun 2012 menunjukkan kurangnya lemak membuat lebih sulit bagi tubuh untuk menyerap sayuran. Memilih saus dengan rendah atau bebas lemak justru membuat tubuh kehilangan beberapa sifat melawan penyakit yang ditawarkan oleh sayuran.

Contoh saja karotenoid yang terkait dengan memerangi kanker, penyakit jantung, dan kehilangan penglihatan. Jenis ini lebih mudah diserap dari sayuran ketika dipasangkan dengan saus berbahan dasar lemak.

Niat untuk memotong jumlah kalori dalam konsumsi hari, malah membuat keuntungan sayuran tidak sepadan. Apa yang sebaiknya dikonsumsi? Studi tersebut menyarankan untuk menggunakan saus berbahan dasar tak jenuh tunggal, seperti alpukat, minyak zaitun, dan minyak canola. Jenis-jenis tersebut yang paling efektif dalam penyerapan nutrisi dan membatasi asupan lemak.

Bahan Makanan Serba Alami

Banyak yang disebut makanan "alami" atau "100 persen alami", menurut laporan Wall Street Journal, sebenarnya diproses dengan bahan-bahan seperti sirup jagung fruktosa tinggi, natrium benzoat, dan tanaman yang dimodifikasi secara genetik. USDA dan FDA tidak memberikan definisi dari istilah-istilah yang menggunakan bahan-bahan tersebut.

Namun, dalam survei tahun 2011, 25 persen dari lebih  1.000 konsumen berpikir deskripsi terbaik untuk membaca label makanan adalah "100 persen alami" atau "semua alami". Hal perlu diperhatikan sebab yang alami ternyata diproses dengan cara yang perlu diperhatikan.

Baca juga: Waktu Makan yang Tepat Sangat Pengaruhi Kesehatan Tubuh

Konsumsi Sedikit Makanan Sesering Mungkin

Saran untuk makan dengan porsi kecil namun sering, mungkin sudah sering didengar dalam pelaksanaan diet. Meskipun klaim telah mendarah daging, beberapa penelitian baru yang menarik tidak mendukung teori tersebut.

Ilmuwan dari Universitas Purdue menempatkan kelompok pria pada diet rendah kalori dan protein tinggi. Kelompok itu dibagi dua dengan yang makan enam makanan kecil dan tiga kali makan besar.

Hasil dari penelitian itu menunjukkan, pria yang makan enam kali porsi kecil merasa lebih lapar daripada mereka yang diberi tiga kali dengan porsi lebih besar dan mereka nyatanya tidak kehilangan berat badan lebih banyak.

Menukar Gula dengan Pemanis Bebas Gula

Gula buatan atau pemanis bebas gula mulai menjadi alternatif untuk mengganti penggunaan gula. Dengan iming-iming nol kalori, maka rasa manis yang didapat tidak membebani tubuh dan pikiran untuk orang yang menjaga berat badan.

Dalam ulasan tahun 2017 dari 37 penelitian, peneliti menemukan pemanis buatan sebenarnya memiliki kaitan dengan penambahan berat badan. Para ahli memiliki beberapa teori tentang koneksi tersebut.

Salah satu alasannya, orang mungkin berasumsi memotong kalori pada kopi atau soda memungkinkan untuk makan berlebihan. Ada pula kemungkinan mekanisme yang mendorong tubuh untuk menambah berat badan saat mencerna pemanis buatan.

Menghindari Semua Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber energi yang penting bagi tubuh, namun menjadi buruk karena tidak terolah dengan baik akan disimpan sebagai lemak. Masalahnya, tidak semua karbohidrat diciptakan sama.

Karbohidrat olahan seperti roti dan gula putih secara nutrisi kosong karena mereka telah dilucuti dari bagian yang paling sehat, yaitu biji-bijian. Di sisi lain, karbohidrat kompleks seperti biji-bijian dan tepung mengandung serat dan nutrisi yang menjaga jantung dan berat badan tetap sehat. Alih-alih menghindari semua karbohidrat, kurangi makanan ringan olahan dan sub-gandum utuh untuk roti dan pasta putih.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES