Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Benarkah Tren Olahraga 'Kilat' Memberi Manfaat?

Selasa 31 Jul 2018 17:24 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

 Peragawan memeragakan jogging di arena kebugaran Fitness First cabang Kemang Village, Jakarta Selatan, Senin (12/6).

Peragawan memeragakan jogging di arena kebugaran Fitness First cabang Kemang Village, Jakarta Selatan, Senin (12/6).

Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Olahraga singkat selama 10 menit terbukti memiliki manfaat sama dengan yang 50 menit

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Waktu luang yang sedikit dan kesibukan yang padat membuat sebagian orang mencari alternatif baru untuk tetap bisa berolahraga. Salah satunya adalah dengan melakukan olahraga berdurasi singkat seperti high intensity interval training. Ada pula yang memanfaatkan aplikasi olahraga singkat seperti aplikasi Streaks untuk berolahraga dengan durasi yang sedikit lebih lama dari tayangan iklan di televisi.

Karena tak memakan waktu lama, jenis olahraga-olahraga singkat ini dengan mudah meraih popularitas di tengah masyarakat. Namun, sebagian orang masih mempertanyakan efektivitas dan manfaat dari olahraga 'kilat' ini.

Efektivitas olahraga singkat ini pernah diteliti dalam sebuah studi pada 2016 lalu terhadap sekelompok laki-laki dengan pola hidup selama 12 minggu. Sebagian partisipan diminta untuk melakukan olahraga singkat bernama sprint interval training (SIT) berdurasi 10 menit sedangkan sebagian lainnya diminta untuk melakukan olahraga biasa berdurasi 50 menit.

Tim peneliti ingin mengetahui apakah SIT dapat memperbaiki sensitivitas insulin maupun kesehatan kardiometabolik seperti halnya olahraga berdurasi 50 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIT yang hanya dilakukan selama 10 menit per hari memberikan manfaat yang serupa dengan olahraga biasa berdurasi 50 menit. Gerakan sederhana yang membuat otot berkontraksi dikatakan dapat memperbaiki sensitivitas insulin dan fungsi jantung.

Peneliti olahraga dari Mayo Clinic Michael Joyner MD mengatakan olahraga berdurasi 5-10 menit yang dilakukan secara konsisten dan ditambah dengan aktivitas kardio dalam keseharian dapat membuat tubuh tetap ramping. Aktivitas kardio yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah menaiki tangga dan mengajak hewan peliharaan seperti anjing berjalan-jalan.

"Semua itu dapat membantu Anda dalam kondisi yang baik," terang Joyner seperti dilansir NBC News.

Meski olahraga berdurasi singkat memiliki beragam manfaat menyehatkan, olahraga berdurasi panjang juga tetap memberi banyak manfaat baik. Selain menyehatkan fisik, olahraga berdurasi panjang juga diketahui dapat memperbaiki kesehatan mental.

Berdasarkan analisis dari 30 studi, olahraga berintensitas sedang selama 20 menit yang dilakukan tiga kali per minggu dapat mencegah depresi. Metode olahraga ni juga dapat mencegah penurunan kemampuan kognitif.

"Jika Anda berolahraga untuk memperbaiki kemampuan kognitif atau kesehatan mental, maka berolahraga terus-menerus selama 20 menit merupakan pilihan optimal," jelas ahli kesehatan dan fitness dari Halevy Life, Jeff Halevy.

Mengingat olahraga berdurasi singkat maupun panjang sama-sama bermanfaat, cara terbaik untuk melakukan olahraga adalah mengombinasikan keduanya. Sebagai contoh, olahraga berdurasi singkat bisa dilakukan ketika sedang memiliki kesibukan cukup padat, sedangkan olahraga berdurasi panjang bisa dilakukan di akhir pekan atau ketika suasana sedang santai.

Para ahli sepakat bahwa melakukan olahraga berdurasi pendek jauh lebih baik dibandingkan tidak berolahraga sama sekali. Untuk upaya menurunkan berat badan, olahraga juga perlu diiringi dengan pengaturan makan yang baik.

"Jangan berpikir bahwa Anda membutuhkan olahraga yang ajaib. Hal terpenting adalah Anda menemukan (olahraga) yang sesuai dengan Anda," jelas Joyner.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA