Thursday, 5 Zulhijjah 1439 / 16 August 2018

Thursday, 5 Zulhijjah 1439 / 16 August 2018

Fogging Bukan Solusi Cegah Nyamuk DBD

Rabu 18 July 2018 09:20 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Aktivitas pengasapan (fogging) mencegah jentik nyamuk penyebab demam berdarah dan chikungunya.

Aktivitas pengasapan (fogging) mencegah jentik nyamuk penyebab demam berdarah dan chikungunya.

Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Fogging hanya berguna membunuh nyamuk dewasa, bukan jentiknya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musim kemarau mulai terasa, meski begitu hujan terkadang turun tanpa terduga. Fogging pun mulai sering dilakukan di rumah-rumah untuk menghindari penyakit yang dibawa nyamuk. Fogging namun bukan solusi utama.

Kepala Subdit Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Dr.Suwito, M.Kes menjelaskan, fogging dilakukan bukan untuk mencegah terjadinya Demam Berdarah atau dikenal dengan DBD. Cara itu dilakukan justru ketika di lingkungan rumah sudah ada yang terkena DBD.

"Melihat kondisi yang ada kasus seperti ditemukan penderita lain dan ada nyamuk. Ini penularan setempat," kata Suwito.

Fogging tidak harus dilakukan kalau memang tidak ada orang yang terkena DBD. Penderita DBD juga harus dipastikan, terkena nyamuk di wilayah rumahnya atau wilayah lain.

Penentuan di mana penderita tergigit nyamuk penting. Sebab wilayah di sekitar penderita DBD biasanya dihuni banyak orang lain. Sehingga bila ada sudah ada penderita DBD diperlukan solusi instan untuk mematikan nyamuk. Fogging bisa dibilang sebagai pilihan terakhir membunuh nyamuk.

Solusi terakhir karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Jentik-jentik nyamuk tidak akan mati dengan cara ini.

Lebih baik, Suwito menyarankan, masyarakat melakukan pencegahan dengan mematikan sumber-sumber jentik berkembang biak. Cara itu lebih ampuh untuk menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Pencegahan DBD juga tidak semata bisa dilakukan dengan menyemprotkan insektisida. Beberapa serangga bisa bertahan hidup meski sudah terkena bahan kimia yang berbahaya.

Insektisida merupakan bantuan yang sering digunakan untuk mengusir nyamuk seketika. Namun, ternyata itu tidak selalu ampuh dan tetap membuat nyamuk berkeliaran di ruangan-ruangan.

Jangan kaget bila menemukan nyamuk yang kebal. Ahli biologi dan Laboratory Head Screening, Environmental Science, Crop Science Division Bayer Dr Sebastian Horstmann menjelaskan, nyamuk bisa mentolerir insektisida. "Mereka itu kaya penyintas, terus beranak yang semakin kuat daya tahannya dan tidak akan mati dengan insektisida yang sama," ujar Horstmann.

Beberapa nyamuk memiliki resistensi pada insektisida tertentu. Kalau mereka bisa bertahan dan memiliki keturunan, maka anak-anaknya akan lebih kuat lagi untuk bertahan pada insektisida itu.

Kalau sudah begitu, Horstmann menyarankan, mengganti jenis insektisida yang digunakan. Biasanya, semakin sering nyamuk terpapar insektisida jenis A maka dia akan resisten pada A.

Tapi, kalau diganti insektisida B, bisa jadi nyamuk yang resisten pada insektisida A akan mati. Hal itu terjadi memang sesuai dengan kebiasaan nyamuk yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Ia pun menyarankan merotasi penggunaan insektisida. "Ini bisa targetkan nyamuk yang banyak dan bisa menerobos badan nyamuk, tidak fokus pada satu jenis saja," ujar Horstmann.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES