Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

OKI Upayakan Produksi Vaksin dari Negara Muslim

Selasa 17 Jul 2018 08:34 WIB

Red: Ratna Puspita

[Ilustrasi] Vaksin pentabio

[Ilustrasi] Vaksin pentabio

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pabrik vaksin Indonesia, Bio Farma, memproduksi 10 persen dari total produksi dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sedang mengupayakan produksi vaksin asli dari negara-negara Muslim melalui kelompok produsen vaksin (Vaccine Manufacturers Group-OIC). Hal tersebut akan dibahas pada pertemuan OKI di Indonesia.

"Kami mengupayakan ada produksi vaksin indigenous dari negara-negara Muslim. Hal ini akan dibahas pada pertemuan rutin berikutnya di Indonesia," kata Direktur Jenderal Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi OKI Irfan Shaukat saat berjumpa dengan sejumlah wartawan dari beberapa negara di kantor sekretariat OKI di Jeddah, Arab Saudi, Senin (16/7).

Menurut dia, jumlah produksi vaksin dari pabrik vaksin Indonesia, Bio Farma, mencapai sepuluh persen dari total produksi dunia. "Selain itu, produksi mereka juga selalu memenuhi standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia, WHO," ujar Irfan.

Ia menambahkan dengan demikian, Bio Farma layak menjadi acuan bagi negara-negara Muslim dalam memproduksi vaksin yang sesuai syarat kesehatan internasional. Dia mengatakan pada pertemuan di Indonesia tersebut, negara-negara anggota OKI akan saling bertukar pengalaman mengenai cara memproduksi vaksin yang sesuai dengan standar WHO.

Sebelumnya, dalam pertemuan pejabat senior pada 5 Desember 2017, Indonesia dipercaya menjadi Pusat Keunggulan (Centre of Excellence) OKI untuk vaksin dan bioteknologi. Beberapa vaksin yang diproduksi oleh Bio Farma di antaranya adalah vaksin BCG untuk mencegah tuberkulosis, vaksin DTP untuk mencegah difteri, tetanus dan pertussis, vaksin Jerap DT untuk mencegah difteri dan tetanus, dan vaksin campak.

Irfan menjelaskan di beberapa negara anggota OKI, ada kampanye anti-vaksin karena dianggap bertentangan dengan aturan Islam. Menyikapi persoalan tersebut, OKI melakukan pendekatan kepada masyarakat di negara-negara Muslim yang masih menolak pemberian vaksin kepada anak-anak dengan melibatkan peran para ulama.

"Kami melibatkan para ulama di negara tersebut guna meluruskan pemahaman yang keliru mengenai vaksin, bahwa pemberian vaksin tidak melanggar hukum agama," ucapnya.

Upaya tersebut berhasil yang ditunjukkan dengan menurunnya kampanye antivaksin dan meningkatnya jumlah masyarakat untuk mendapatkan vaksin.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA