Monday, 3 Zulqaidah 1439 / 16 July 2018

Monday, 3 Zulqaidah 1439 / 16 July 2018

Imunoterapi, Pengobatan Kanker Dengan Harga Selangit

Jumat 13 July 2018 06:16 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Esthi Maharani

Sampel darah Mengandung sel kanker

Sampel darah Mengandung sel kanker

Foto: CNN
imunoterapi akan menjadi metode terapi di masa depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Indonesia, imunoterapi memang tergolong baru dan menjadi pengobatan langka yang diterapkan di rumah sakit. Dalam acara Seminar dan Workshop Aspek Imunologik Dalam Kanker dengan tema 'Kemajuan Imunologi : Pintu Menuju Peningkatan Kualitas Terapi Kanker' di Jakarta Selatan, Sabtu (7/7), para ahli kanker nasional mencoba mengembangkan metode imunoterapi di Indonesia.

Prof Dr dr. Aru Wicaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, FINASIM mengatakan dalam seminar, imunoterapi yang memberdayakan sistem kekebalam tubuh untuk melawan kanker akan menjadi metode terapi di masa depan.

"Kita perlu mengikuti perkembangan ilmu ini," ujar Aru.

Ia meyakini, imunoterapi merupakan modal terapi yang dapat meningkatkan keberhasilan terapi kanker. Imunoterapi merupakan metode pengobatan kanker dengan memberdayakan sistem kekebalan tubuh dalam melawan sel kanker. Saat ini terdapat beberapa jenis imunoterapi, antara lain monoclonal antibodies, cancer vaccines, cytokines, dan adoptive cell transfer.

Namun menurut Aru, angka kanker di Indonesia bisa turun dengan langkah pencegahan dan deteksi dini, bukan dengan obat canggih. Deteksi dini penting dilakukan. Apabila seorang pasien datang dengan kondisi menderita kanker stadium tiga atau lebih, maka tetap saja sulit diobati karena waktu yang diperlukan untuk terapi sudah di ujung tanduk. Pada waktu sel normal berubah menjadi kanker, sel tersebut akan berkembang membentuk populasi yang berbeda-beda.

Tidak hanya populasi saja yang berbeda, perangai sel juga tidak sama satu dengan yang lain. Kondisi demikian membuatnya sulit. Tubuh memerlukan 'senjata' untuk memusnahkan populasi yang berbeda-beda tersebut. Kekebalan tubuh awalnya mampu membunuh sel kanker. Namun ketika sudah berubah menjadi beberapa karakter, sistem imun tubuh ternyata hanya mampu memusnahkan sebagian kanker saja.

"Pengobatan kanker dengan kemoterapi juga mengalami masalah karena untuk membunuh sel membutuhkan banyak fase," lanjut Aru.

Itu sebabnya pasien yang datang dengan kondisi kanker stadium parah umumnya sulit diobati akibat keterbatasan waktu. Imunoterapi dianggap menjadi 'jalan ke luar' baru bagi penyakit kanker, dan bisa diberikan dengan berbagai macam cara. Saat ini perkembangannya dengan mengembangkan obat.

Pada dasarnya dulu obat sejenis yang dipakai untuk imunoterapi sudah ada, hanya saja perkembangannya tidak cepat. Meski demikian, biomarker yang ada saat ini belum bisa dipakai secara umum. Harganya cukup menguras kantong, yakni sekitar Rp 90 juta untuk satu kali infus. Tidak heran bila pengobatan imunoterapi belum bisa menjangkau masyarakat secara luas. Metode terapi juga masih mendapatkan pengembangan dari para ahli dunia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES