Monday, 3 Zulqaidah 1439 / 16 July 2018

Monday, 3 Zulqaidah 1439 / 16 July 2018

Hiperhomosisteinemia, Kelainan Pemicu Penyakit Jantung Usia

Kamis 12 July 2018 06:40 WIB

Rep: Adysha Citra R/ Red: Indira Rezkisari

Ilustrasi Serangan Jantung

Ilustrasi Serangan Jantung

Foto: Foto : MgRol_92
Hiperhomosisteinemia umumnya bersifat genetik atau keturunan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Risiko penyakit jantung koroner cenderung mengalami peningkatan setelah laki-laki memasuki usia 40 tahun dan perempuan memasuki masa menopause. Meski identik dengan kelompok usia tua, penyakit jantung koroner juga dapat ditemukan pada kelompok usia muda.

Salah satu hal yang dapat mempercepat terjadinya penyakit jantung koroner pada usia muda adalah hiperhomosisteinemia. Hiperhomosisteinemia merupakan kondisi di mana seseorang memiliki kadar homosistein yang tinggi di dalam darah.

"Itu biasanya genetik, keturunan. Jadi sejarah keluarga juga memiliki peranan penting," ungkap spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Pondok Indah Puri Indah dr Johan Winata SpJP(K) FIHA, di Jakarta.

Hiperhomosisteinemia dapat mempercepat terjadinya penyakit jantung koroner karena kondisi ini dapat mempercepat progresivitas penumpukan lemak di dinding pembuluh darah. Penumpukan lemak ini pada akhirnya dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah. Penyumbatan pada pembuluh darah koroner dapat menyebabkan penyakit jantung koroner.

Baca juga: Menonton Piala Dunia Bisa Sebabkan Serangan Jantung?

Seseorang dengan kondisi hiperhomosisteinemia dapat menjalani terapi dengan mengonsumsi obat. Johan mengatakan ada dua obat yang bisa diberikan kepada penderita hiperhomosisteinemia. "Satu asam folat, yang kedua vitamin B12," papar Johan.

Serangan jantung pada penyakit jantung koroner biasanya disertai oleh nyeri dada yang khas. Nyeri dada pada serangan jantung akan terasa lebih berat dan sering disertai gejala keringat dingin. Sebagian dapat mengalami gejala seperti mual, nyeri di ulu hati dan muntah.

Nyeri dada pada serangan jantung bersifat persisten. Nyeri tidak akan hilang meski tubuh beristirahat.

"Berbeda dengan nyeri dada akibat penyempitan (pembuluh darah), istirahat nyerinya hilang," terang Johan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES