Wednesday, 6 Rabiul Awwal 1440 / 14 November 2018

Wednesday, 6 Rabiul Awwal 1440 / 14 November 2018

Tekanan Hidup Masa Kecil Pengaruhi Kedewasaan

Jumat 22 Jun 2018 06:19 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nur Aini

Pergaulan remaja/ilustrasi

Pergaulan remaja/ilustrasi

Foto: parade.com
Pengalaman negatif masa kecil membuat seseorang lebih cepat dewasa saat remaja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengalaman negatif yang dialami saat kecil, seperti mengidap penyakit kronis atau menghadapi perceraian orang tua, dapat menyebabkan seseorang lebih cepat dewasa selama masa remaja.

Studi menemukan, pengalaman itu menyebabkan pematangan lebih cepat di korteks prefrontal, dan amygdala. Dua bagian itu berperan penting dalam mengendalikan emosi ketika remaja.

Peneliti dari Universitas Radboud di Belanda, Annya Tyborowska mengatakan, dari sudut pandang evolusi, tumbuh lebih cepat dewasa dalam lingkungan penuh tekanan merupakan kondisi berguna. "Tapi, kondisi ini juga mencegah otak menyesuaikan diri dengan lingkungan saat ini dengan cara yang lebih fleksibel," tuturnya, dilansir di Indian Express, Kamis (21/6).

Dampak berbeda akan dirasakan seseorang yang mengalami tekanan di kemudian hari, seperti stres di lingkungan sosial sekolah. Mereka cenderung memiliki kondisi pematangan lebih lambat di area otak hippocampus dan bagian lain dari korteks prefrontal pada masa remaja. "Yang membuat penelitian menarik, efek stres yang lebih kuat pada otak juga meningkatkan risiko pengembangan ciri kepribadian antisosial," ucap Tyborowska.

Penelitian itu telah diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, di mana para peneliti memeriksa sebuah kelompok yang terdiri dari 129 orang anak dan orang tua. Penelitian dilakukan sejak 1998 dan berakhir pada tahun ini.

Selama dua dekade terakhir, para peneliti mempelajari sesi bermain anak dan interaksi dengan orang tua, teman, serta teman sekelas. Anak-anak juga ‘dipelajari’ dengan scan MRI. Tim peneliti menyelidiki dua jenis stressor, yakni peristiwa kehidupan negatif dan pengaruh negatif dari lingkungan sosial. Studi dilakukan dalam dua tahap kehidupan, anak usia dini (0-5 tahun) dan remaja (14-17 tahun).

Peneliti mengaitkan tingkat stres dengan pematangan korteks prefrontal, amygdala, dan hippocampus. Wilayah otak itu memainkan peran penting dalam situasi sosial dan emosional serta memungkinkan seseorang peka terhadap suatu tekanan.

Para peneliti mengaku terkejut saat menemukan adanya hubungan antara stres sosial di kemudian hari dengan pematangan lebih lambat selama masa remaja. "Sayangnya, melalui studi ini, kami belum bisa mengatakan secara pasti bahwa stres pasti menimbulkan efek ini. Tapi, berdasarkan penelitian pada hewan, kami dapat berhipotesis bahwa mekanisme ini memang kausal," kata Tyborowska.

Baca: Penelitian Ungkap Mengapa Donat Digemari Masyarakat

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Semangat Adul Menuntut Ilmu (2)

Selasa , 13 Nov 2018, 23:56 WIB