Rabu, 6 Rabiul Awwal 1440 / 14 November 2018

Rabu, 6 Rabiul Awwal 1440 / 14 November 2018

Fenomena Bunuh Diri Figur Publik Menurut Psikiater

Ahad 10 Jun 2018 09:57 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Indira Rezkisari

Kate Spade (kiri) dan Anthony Bourdain, dua figur publik yang melakukan bunuh diri.

Kate Spade (kiri) dan Anthony Bourdain, dua figur publik yang melakukan bunuh diri.

Foto: AP
Masyarakat agar segera bertindak apabila menemukan gejala hendak bunuh diri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa waktu belakangan, tersiar kabar tewasnya sejumlah pesohor dunia. Sebagian ditengarai tutup usia setelah mengakhiri hidupnya sendiri atau bunuh diri, memunculkan pertanyaan di benak publik mengapa hal itu bisa terjadi.

Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, setiap fenomena bunuh diri selalu meninggalkan perenungan bagi kita semua. Ada rasa sedih, kecewa, marah, takut, cemas, sekaligus semangat untuk melakukan pencegahan agar hal itu tidak kembali terjadi.

"Tidak ada diskriminasi pada fenomena bunuh diri, setiap orang memiliki risiko untuk melakukan bunuh diri, dari berbagai suku budaya, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, dan pekerjaan," ungkap Lahargo yang sehari-harinya bertugas di RS Jiwa Dr H Marzoeki Mahdi Bogor dan RS Siloam Bogor.

Meski demikian, ada beberapa faktor risiko yang membuat perilaku bunuh diri lebih mudah terjadi. Faktor itu kompleks dan tidak ada penyebab tunggal, misalnya depresi, sakit parah, nyeri kronis, mengalami kekerasan, memiliki senjata berbahaya, atau baru keluar dari penjara.

Terekspos atau terpapar perilaku bunuh diri yang dilakukan oleh orang lain seperti anggota keluarga, teman, atau selebritas idola juga dapat menjadi faktor risiko. Di lain pihak, banyak pula mereka yang berisiko tetapi tidak tergerak melakukan aksi bunuh diri.

Lahargo mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mendata adanya 800 ribu kasus bunuh diri setiap tahun. Artinya, ada satu orang yang melakukan bunuh diri setiap 40 detik dan paling banyak mendampak mereka yang berada pada rentang usia 15-29 tahun.

Dia mengingatkan masyarakat agar segera bertindak apabila orang di sekeliling memperlihatkan tanda dan gejala hendak bunuh diri. Secara psikologis, orang yang mencoba bunuh diri sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin mengakhiri hidup, tetapi berharap penderitaan atau konflik yang dialami lekas berakhir.

"Dampak yang disebabkan fenomena bunuh diri bukanlah hal yang ringan, kehilangan orang yang dikasihi/dikagumi, juga perasaan traumatik akibat peristiwa tersebut bagi keluarga dan mereka yang menyaksikan kejadian bunuh diri," ujar Lahargo.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES