Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Tingkat Pendidikan Pengaruhi Risiko Hipertensi

Jumat 09 Mar 2018 07:19 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Winda Destiana Putri

Penderita Hipertensi (darah tinggi) sedang diperiksa tekanan darahnya, Ilustrasi

Penderita Hipertensi (darah tinggi) sedang diperiksa tekanan darahnya, Ilustrasi

Foto: Blogspot
Semakin rendah tingkat pendidikan, semakin besar seseorang mengalami hipertensi.

REPUBLIKA.CO.ID, Tingkat pendidikan ternyata mempengaruhi risiko seseorang terhadap hipertensi. Semakin rendah tingkat pendidikan, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami hipertensi.

"Yang pendidikan rendah biasanya masalah gizi, gizi buruk, infeksi. Ternyata masalah vaksuler juga sama," ungkap Ketua Indonesian Society of Hypertension Dr dr Yuda Turana SpS dalam konferensi pers 12th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension, di Jakarta.

Hal ini diketahui melalui sebuah data hipertensi yang melibatkan lebih dari 71 ribu orang dewasa. Sekitar 43 persen laki-laki dewasa yang tidak mengecap pendidikan sekolah tercatat mengalami hipertensi. Pada perempuan dengan latar belakang pendidikan yang sama, kasus hipertensi yang ditemukan mencapai 50,8 persen.

 

Baca juga: Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Hipertensi

Kasus hipertensi pada kelompok laki-laki dewasa dengan jenjang pendidikan terakhir SD diketahui sebesar 40,9 persen. Pada perempuan dengan jenjang pendidikan terakhir SD, kasus hipertensi ditemukan sebesar 43,3 persen.

Di sisi lain, kasus hipertensi pada kelompok laki-laki dewasa dengan jejang pendidikan terakhir diploma adalah 25,8 persen. Kasus hipertensi pada kelompok perempuan dengan jenjang pendidikan yang sama adalah 15,1 persen.

Pada kelompok laki-laki dewasa dengan jenjang pendidikan terakhir sarjana, kasus hipertensi yang ditemukan adalah 28,7 persen. Pada perempuan dewasa dengan jenjang pendidikan yang sama, kasus hipertensi yang ditemukan sebesar 16,6 persen.

"Pada pendidikan rendah, prevalensi (hipertensi) lebih tinggi dibanding yang berpendidikan tinggi," lanjut Yuda.

Temuan ini tentu menjadi tantangan yang cukup signifikan. Di satu sisi, data ini menunjukkan bahwa masalah vaskuler lebih banyak ditemukan pada kelompok dengan jenjang pendidikan yang rendah. Di sisi lain, jenjang pendidikan yang rendah berkaitan dengan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terkait kesehatan.

Pengetahuan dan kesadaran yang rendah pada penderita hipertensi berisiko membuat kondisi hipertensi tidak terkontrol dengan baik. Hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan beragam komplikasi di kemudian hari. Beberapa komplikasi yang ditimbulkan dari hipertensi adalah gagal jantung dan gagal ginjal.

"Menjadi tantangan kita bersama," jelas Yuda.

Hipertensi pada dasarnya dipengaruhi oleh beragam faktor, baik faktor yang tidak bisa dimodifikasi dan faktor yang bisa dimodifikasi. Faktor-faktor risiko hipertensi yang tak bisa dimodifikasi meliputi usia, etnis dan riwayat keluarga (genetik).

Di sisi lain, ada beberapa faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi, seperti pola makan, obesitas atau kegemukan serta kondisi penyakit lain, salah satunya diabetes mellitus tipe 2.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES