Rabu, 6 Syawwal 1439 / 20 Juni 2018

Rabu, 6 Syawwal 1439 / 20 Juni 2018

Sudahkah Anda Lakukan SADARI Kanker Payudara?

Senin 19 Februari 2018 16:54 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Warga menuggu antrian untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara dalam kegiatan pekan deteksi dini kanker di Puskesmas Kecamatan Senen, Jakarta, Selasa (11/10).

Warga menuggu antrian untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara dalam kegiatan pekan deteksi dini kanker di Puskesmas Kecamatan Senen, Jakarta, Selasa (11/10).

Foto: Republika/Prayogi
Perilaku deteksi dini kanker payudara sangat rendah di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kanker payudara merupakan salah satu kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia, yaitu 50 per 100 ribu penduduk  dengan angka kejadian tertinggi di DI Yogyakarta sebesar 24 per 10 ribu penduduk sesuai informasi dari Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI tahun 2013. Sementara itu,  kanker payudara termasuk dalam 10 penyebab kematian terbanyak pada perempuan di Indonesia dengan angka kematian 21,5 per 100 ribu penduduk.

Direktur Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), dr Lily S Sulistyowati, MM menjelaskan, faktor yang dapat memicu kanker payudara antara lain perokok aktif dan pasif, pola makan buruk, usia haid pertama di bawah 12 tahun, perempuan tidak menikah, perempuan menikah tidak memiliki anak, melahirkan anak pertama pada usia 30 tahun, tidak menyusui, menggunakan kontrasepsi hormonal dan atau mendapat terapi hormonal dalam waktu lama, usia menopause lebih dari 55 tahun, pernah operasi tumor jinak payudara, riwayat radiasi  dan riwayat kanker dalam keluarga. "Kanker payudara sangat berbahaya dan harus diwaspadai sejak dini. Meskipun demikian, kanker payudara dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat, rutin melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang dilakukan oleh setiap perempuan dan Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) oleh tenaga kesehatan terlatih," jelasnya, beberapa waktu lalu.

Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) 2016 menyatakan, perilaku masyarakat dalam deteksi dini kanker payudara masih rendah. Tercatat 53,7 persen masyarakat tidak pernah melakukan SADARI, sementara 46,3 persen pernah melakukan SADARI dan 95,6 persen masyarakat tidak pernah melakukan SADANIS, sementara 4,4 persen pernah melakukan SADANIS.

Kementerian Kesehatan RI mengimbau setiap perempuan untuk melakukan SADARI dan SADANIS secara berkala dengan tujuan menemukan benjolan dan tanda-tanda abnormal pada payudara sedini mungkin agar dapat dilakukan tindakan secepatnya. SADARI dan SADANIS dapat dilakukan setiap bulan pada hari ke-7 hingga ke-10 terhitung dari hari pertama haid atau pada tanggal yang sama setiap bulan bagi perempuan yang sudah menopause.

Dengan melakukan SADARI dan SADANIS secara berkala, kanker payudara dapat ditemukan pada stadium dini dan meningkatkan angka harapan hidup pada penderitanya. Kementerian Kesehatan RI terus menerus mengedukasi masyarakat Indonesia untuk menghindari penyakit kanker dengan menjalankan pola hidup CERDIK (Cek kesehatan berkala; Enyahkan asap rokok; Rajin aktivitas fisik; Diet seimbang; Istirahat cukup; Kelola stres). Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kanker atau onkolog bila ditemukan benjolan atau perubahan pada payudara saat melakukan SADARI atau SADANIS. Perilaku menunda akan menjadikan sel kanker berkembang lebih ganas lagi dan mengurangi peluang untuk sembuh.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pencarian Korban KM Sinar Bangun

Rabu , 20 Juni 2018, 18:09 WIB