Kamis, 5 Zulhijjah 1439 / 16 Agustus 2018

Kamis, 5 Zulhijjah 1439 / 16 Agustus 2018

Stres Menyebabkan Sakit, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ahad 21 Januari 2018 19:36 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Dwi Murdaningsih

Perempuan stres

Perempuan stres

Foto: wordpress.com
Stres dapat mempengaruhi respons dari pertahanan zat yang melawan bakteri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian terbaru membuktikan bahwa stres dapat menyebabkan penyakit fisik dengan membajak sistem imun. Penelitian yang dibuat oleh Universitas Michigan mengidentifikasi bagaimana stres berinteraksi dengan sel. Sel yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi tersebut malah berubah menjadi penyakit fisik.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa stres dapat memengaruhi respons dari pertahanan bahan kimia atau zat yang melawan bakteri atau virus, memperkuat reaksi inflamasi dan alergi seperti iritasi usus besar, asma dan gangguan imun seperti lupus. Dokter dapat mulai menganjurkan metode mengatur stres seperti latihan bernapas dan yoga untuk menangani kelainan seperti asma dan gejala sindrom bowel.

Hasil penelitian yang di publikasikan dalam jurnal Leukocyte Biology, menemukan syaraf penerima stress yang di kenal sebagai CRF1 (Corticotropin-releasing Factor) atau faktor pelepas kortikotropin, mengirimkan sinyal pada sel imun tertentu yang dinamakan sel Mast, dan mengontrol bagaimana menguatkan daya tahan tubuh.

Tanaman Hijau Cegah Stres Saat Bekerja

Sel mast merupakan sejenis sel darah putih yang bertugas juga sebagai penanggap inflamasi seperti hipersensitif dan reaksi alergi ketika sistem imun melawan ancaman tertentu pada tubuh. sel ini juga terpicu ketika kondisi stres.

Peneliti melakukan sebuah penelitian pada tikus untuk mengetahui sel imun me respon pada psikologi dan stress alergi. sekelompok tikus di coba dilakukan uji syaraf penerima stres pada mast sel nya, dan kelompok yang lain tidak dilakukan uji stres.

Dilansir dari laman Daily Mail, ilmuwan menemukan bahwa tikus yang telah di uji syaraf penerima stres memiliki tingkat penyakit yang tinggi. Namun tikut yang tanpa penerima stres tidak mengalami sakit dan terjaga baik psikologi maupun alergi stres.

Profesor spesialis penyakit stres, Adam Moeser mengatakan bahwa ketika sel mast terpacu situasi stres maka mereka rentan dikendalikan oleh syaraf penerima stres.

Moeser menjelaskan, ketika hal ini terjadi, CRF1 menunjukan bahwa sel ini melepaskan zat kimia yang mampu menyebabkan inflamasi dan alergi penyakit seperti sindrom bowel, asma, alergi makanan yang membahayakan jiwa, dan kelainan autoimun seperti lupus.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES