Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Mengapa Makanan Kaya Serat Bagus untuk Tubuh?

Jumat 12 January 2018 08:25 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Yudha Manggala P Putra

Makanan kaya serat sangat baik bagi penderita diabetes.

Makanan kaya serat sangat baik bagi penderita diabetes.

Foto: Adhi Wicaksono/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seluruh dokter memuji dan merekomendasikan konsumsi serat cukup dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menunjukkan makanan kaya serat - buah, sayuran, dan biji-bijian - dapat mencegah penyakit jantung, stroke, dan diabetes, namun tidak ada yang tahu persis mengapa serat sangat baik untuk kita?

Jawabannya karena serat bermanfaat bagi mikrobioma usus yang pada gilirannya memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Tubuh manusia tidak menghasilkan enzim yang memecah serat, melainkan hanya beberapa jenis bakteri dalam usus.

Hal ini mendorong ilmuwan berhipotesis bahwa mikroba usus secara instrinsik terkait dengan manfaat kesehatan serat. Dua studi terpisah baru-baru ini diterbitkan dalam Jurnal Cell Host & Microbe menggunakan tikus sebagai obyek pada makanan rendah serat.

Studi pertama dipimpin ilmuwan Georgia State University, Andrew Gewirtz yang mengamati tikus yang awalnya diet rendah lemak kemudian dibuat tinggi lemak. Studi kedua dikepalai ahli biologi Gothenburg University, Fredrik Bckhed yang mengamati tikus yang awalnya diet makanan serat tinggi diganti menjadi diet makanan serat rendah.

Dalam kedua studi, tikus tersebut menunjukkan ciri-ciri tidak sehat dilihat dari strain bakteri usus berbeda. Ususnya menyusut, dan lapisan lendir pelindung tipis pada ususnya rusak. Membran permeabel baru ini kemudian memungkinkan bakteri menyerang organ tubuh lainnya yang memicu reaksi imun.

Di samping ususnya bermasalah, tikus di penelitian Gewirtz mengalami penambahan berat badan signifikan, gula darah tinggi, dan resistensi insulin. Jumlah bakteri baik di ususnya berkurang.

Ilmuwan kemudian memberikan kedua kelompok tikus ini dengan jenis serat disebut inulin. Hasilnya, usus tikus-tikus ini kembali sehat.

"Diet rendah serat mengubah komposisi bakteri dan metabolisme bakteri yang pada akhirnya menyebabkan cacat pada lapisan lendir bagian dalam sehingga memungkinkan bakteri mengganggu organ tubuh lainnya yang akhirnya memicu peradangan dan penyakit metabolik lainnya," kata peneliti senior yang bekerja bersama Backhed, Gunnar C Hansson, dilansir dari Mental Floss, Jumat (12/1).

Hasil penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya sayur hijau, atau sayuran berdaun lebih banyak. Masih malas makan sayur? Ubah gaya hidup dan pola makan Anda mulai dari sekarang.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA