Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Gizi Seimbang Penting untuk Cegah Bayi Lahir Stunting

Kamis 14 Dec 2017 10:10 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Prof Dr Endang L Achadi yang memberikan materi ‘Kesehatan dan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan’ dalam Journalist Goes to Campus di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) beberapa waktu lalu.

Prof Dr Endang L Achadi yang memberikan materi ‘Kesehatan dan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan’ dalam Journalist Goes to Campus di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) beberapa waktu lalu.

Foto: Republika/Bilal Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi dan stroke kerap dianggap sebagai penyakitnya orang-orang kaya. Ternyata hasil berbagai penelitian menunjukkan, penyakit-penyakit juga juga sama besarnya diderita kelompok masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah.

Rupanya, adanya penyakit-penyakit ini juga berkaitan juga dengan saat-saat manusia masih berada dalam kandungan. Periode ini yang disebut sebagai 1000 hari pertama kehidupan yang terdiri dari 270 hari atau sembilan bulan selama dalam kandungan dan 730 hari atau selama dua tahun setelah dilahirkan.

Kebutuhan gizi di masa 1000 hari pertama kehidupan ini ternyta sangat penting dalam mempengaruhi perkembangan kesehatan ke depannya. Bahkan juga masa-masa ini akan menentukan adanya penyakit-penyakit degeneratif, di samping ada faktor-faktor lainnya yang mendukung seperti gaya hidup yang tidak sehat.

“Gizi yang tidak cukup untuk janin, akan menimbulkan stunting saat dilahirkan, yaitu bayi yang lahir dengan panjang badan kurang dari 48 cm. Stunting karena kurang gizi secara kronis dari dalam kandungan. Kemudian akan terjadi hambatan perkembangan organ lain seperti otot, jantung dan ginjal,” kata Prof Dr Endang L Achadi yang memberikan materi ‘Kesehatan dan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan’ dalam Journalist Goes to Campus di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) beberapa waktu lalu.

Endang memaparkan dalam periode 1000 hari pertama kehidupan, terjadi pembentukan organ-organ tubuh. Jika terjadi kekurangan atau kelebihan gizi pada periode ini, maka akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan semua organ tubuh, seperti stunting.

Jumlah bayi yang mengalami stunting di Indonesia sangat tinggi yaitu sebesar 37,2 persen yang menjadi terbanyak kelima di dunia. Jumlah ini juga tinggi dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara seperti Thailand sebesar 16 persen dan Vietnam sebesar 23 persen.

Anak yang stunting juga akan berdampak hingga ia besar, khususnya perempuan, jika kemudian menjadi ibu dan hamil, maka anak yang dikandungnya juga berpotensi untuk tidak tumbuh secara optimal karena ibunya yang terlalu kurus dan pinggul yang kecil karena lahir stunting.

Pertumbuhan dan perkembangan otak juga terjadi di periode 1000 hari pertama kehidupan. Jika gizi mengalami kekurangan gizi yang kronis dan menyebabkan stunting, fungsinya pun akan terganggu. Meski setelah usia dua tahun, masih ada peluang untuk memperbaiki fungsi kognitif dengan terus memberikan asupan gizi yang baik.

“Pengaruh gen kecil, kurang dari 25 persen. Pengaruh lingkungan yang jauh lebih besar. Ibu-ibu harus mengerti dan paham tentang pemberian gizi untuk kehidupan anak di 1000 hari pertamanya,” jelasnya.

Dr. Tirta Prawita Sari MSc,SpGK yang menjadi pemateri ‘Gizi Seimbang’ menjelaskan kebutuhan gizi pada periode 1000 hari pertama kehidupan sangat penting. Khususnya saat bayi berusia 0-24 bulan. Ibu akan dihadapkan pada masalah pemenuhan asupan gizi.

Pada periode tersebut, selama enam bulan pertama bayi harus dipenuhi kebutuhannya terhadap Air Susu Ibu (ASI). Karena hanya ASI yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan energi bayi di usia enam bulan pertama tersebut.

Saat bayi berusia 6-8 bulan, ASI secara fisiologis komposisinya tidak lagi mencukupi kebutuhan perkembangan anak. Sehingga bayi akan diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI). MPASI ini harus mencukupi kebutuhan zat gizi bayi selain dari ASI.

Jika MPASI tidak bisa memenuhi kekurangan dari pemberian ASI saja, maka terdapat gap antara kebutuhan zat gizi dengan yang didapatkannya. Jika dibiarkan berlarut-larut, anak pun akan tumbuh stunting.

“Asupan energi bukan hanya satu-satunya yang harus diperhatikan. Komponen lain yang harus diperhatikan dalam pemberian makan kepada anak adalah protein dan zat gizi mikro, dalam hal ini zat besi dan vitamin A,” jelas Tirta.

Dalam panduan praktek pemberian makan pada bayi dan anak yang dikeluarkan Badan Kesehatan PBB (WHO), terdapat syarat keragaman makanan minimal yang harus dipenuhi agar MPASI dianggap memiliki keragaman yang cukup.

MPASI beragam yang cukup minimal terdapat empat dari tujuh jenis makanan berikut yaitu bahan makanan sumber karbohidrat seperti padi-padian, umi, gandum dan batang, kacang-kacangan, susu dan produk susu, telur, daging hewan seperti ayam, ikan dan sapi, buah dan sayuran kaya vitamin A serta buah dan sayuran lainnya.

“Sebaiknya selalu menambahkan produk hewani ke dalam makanan sehari-hari  seperti daging, ikan dan telur,” tambahnya.

Produk hewani, lanjutnya, menyediakan zat besi dan dan zinc yang mudha diserap oleh tubuh, jauh lebih baik dari produk nabati. Akan tetapi tidak semua produk hewani yang mengandung zat besi yang mudah diabsorpsi. Telur dan susu bukan sumber zat besi yang baik.

“Sumber zat besi yang baik berasal dari hewani. Meski anak sudah mendapat susu dan telur, dapat ditingkatkan dengan daging atau hati ayam serta ikan atau hasil laut lainnya,” jelas Tirta.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA