Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Pelihara Kucing Dianggap Bisa Turunkan Resiko Terkena Asma

Sabtu 11 November 2017 08:00 WIB

Rep: reja irfa widodo/ Red: Esthi Maharani

Kucing

Kucing

Foto: Youtube

REPUBLIKA.CO.ID, COPENHAGEN -- Sejumlah peneliti dari Denmark mengungkapkan, berdasarkan hasil studi, memelihara kucing di rumah dapat membantu memperkecil resiko terkena penyakit asma pada anak-anak. Hasil ini diketahui setelah studi yang dilakukan terhadap 400 anak, termasuk yang memelihara kucing dan yang tidak memeliharanya.

Hasilnya, anak-anak yang memelihara kucing di rumahnya memiliki resiko yang lebih kecil mengalami pembengkakan dan alergi, terutama di organ-organ pernapasan. Peneliti yakin, keberadaan kucing dapat mencegah berkembangnya sebuah variasi gen tertentu, yang dipercaya dapat memicu timbulnya penyakit asma.

Kendati begitu, variasi gen yang sama tidak menunjukan reaksi saat ada anjing atau hewan piaraan lainnya. Saat aktif, variasi gen TT ini meningkatkan resiko penyakit asma, bronchitis, dan pneumonia. Satu dari tiga anak, yang berada dalam populasi objek studi, membawa variasi gen TT ini. Namun, menurut peneliti, jumlah ini cukup normal dari segi proporsi jumlah keseluruhan anak-anak tersebut.

Ketua tim peneliti dari Copenhagen Studies on Asthma in Childhood Research Center, Jakob Stokholm, menuturkan, penjelasan tentang hal terebut kemungkinan besar terkait dengan virus atau jamur yang dibawa oleh kucing tersebut. ''Jika kita bisa mengetahui mekanisme ini, hal itu akan membua peluang bagi kita untuk bisa mengisolasi variasi gen TT mereka dan melindungi anak-anak kita dari penyakit tersebut,'' kata Jakob seperti dikutip The Telegraph, Jumat (10/11).

Meski begitu, para peneliti belum bisa menemukan korelasi atau alasan, kenapa variasi gen TT menjadi penyebab meningkatnya resiko penyakit asma, bronchitis, dan pneumonia. Menurut salah satu tim peneliti, Dr Arne Host, hasil penelitian ini cukup menarik, karena studi-studi lain cenderung untuk menyimpulkan sesuatu yang belum final.

''Saat ini, penyebabnya hanya dihubungkan dengan variasi gen tertentu, yang sebenarnya menunjukan kompleksitas perkembangan asma dan alergi di tubuh manusia. Ini bukan hanya mengenai gen atau lingkungan, tapi bagaimana kucing dan anak-anak berinteraksi. Masih banyak dari hal ini, yang belum kita ketahui,'' kata Arne Host.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES