Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Anak Laki-Laki Lima Kali Lebih Rentan Terkena Autis

Ahad 12 Feb 2017 12:01 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Winda Destiana Putri

Remaja autis,ilustrasi

Remaja autis,ilustrasi

Foto: momjunction.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian mengatkan, anak laki-laki lima kali lebih rentan terkena autis. Hal ini jika dilihat berdasarkan struktur otak laki-laki, seperti penelitian yang dipublikasikan JAMA Psychiatry ini.

Gangguan spektrum autisme (ASD) merupakan adanya masalah pada perkembangan saraf. Masalah ini biasanya ditandai dengan interaksi sosial dan komunikasi verbal maupun non-verbal yang terganggu. Namun selain gejala, gangguan ini ternyata lebih mudah berkembang pada struktur otak bertipikal laki-laki, dilansir Sciencealert Ahad (12/2).

Studi terbaru menunjukkan perempuan memiliki berbagai jenis gejala yang bisa membuat mereka tidak terdiagnosis. Tetapi sebuah studi baru dari Goethe University di Jerman telah menemukan perkembangan otak juga mungkin memainkan peran dalam hal ini."Asumsinya adalah bahwa jika otak laki-laki lebih rentan terhadap ASD, maka mungkin perempuan yang terkena autisme memiliki fitur otak yang lebih menyerupai laki-laki," salah seorang peneliti, Christine Ecker.

Untuk lebih jelasnya, otak laki-laki pada dasarnya tidak terlalu banyak perbedaan. Namun ada aspek neurologis tertentu yang lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Salah satu dari hal tersebut, yakni korteks serebral yang bentuknya tipis.

Ketika para peneliti melakukan MRI pada masing-masing pasien, mereka menilai ketebalan korteks serebral  memiliki peran kunci dalam memori di  bagian otak. Bagian ini juga  berperan pada hal perhatian, persepsi dan kesadaran. Korteks yang biasanya sedikit lebih tipis pada laki-laki ditemukan  di semua orang dewasa yang terkena ASD.

Karena keterbatasan penelitian, peneliti tidak dapat menegaskan jika korteks serebral tipis membuat seseorang lebih mungkin untuk memiliki ASD atau hanya gejala. "Kami tidak tahu pada titik ini," kata Ecker.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA