Thursday, 5 Zulhijjah 1439 / 16 August 2018

Thursday, 5 Zulhijjah 1439 / 16 August 2018

Deteksi Dini Tambah Harapan Hidup Penderita Kanker Paru

Kamis 09 July 2015 12:02 WIB

Red: Indira Rezkisari

Faktor genetik menyebabkan orang Asia lebih rentan mengidap kanker paru.

Faktor genetik menyebabkan orang Asia lebih rentan mengidap kanker paru.

Foto: Prayogi/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Ahli kesehatan mengungkapkan, deteksi dini berpeluang menambah harapan hidup penderita kanker paru-paru.

Spesialis bedah toraks dan kardiovaskular pada Rumah Sakit Gleneagles, Singapura, Su Jang Wen mengatakan, deteksi dini bisa dilakukan melalui pemeriksaan CT-Scan Thorax dengan radiasi rendah, terutama bila seseorang mengalami gejala-gejala seperti sulit bernafas dan batuk tidak kunjung sembuh.

"Sulit bernapas, sering batuk, sebenarnya bisa menjadi gejala awal kanker paru-paru, namun hal ini seringkali tidak dianggap serius. Baru disadari jika sudah stadium akhir (4)," ujar Jang Wen di Jakarta.

Dia mengatakan, kebanyakan penderita baru mengetahui penyakit ini setelah memasuki stadium akhir dan bila sudah begini, 95 persen kemungkinan penderita meninggal dunia dalam kurun waktu empat bulan. Jang Wen mengatakan, ada salah satu teknologi medis, yakni Oksigenasi Membran Extracorporeal (ECMO) yang bisa membantu penderita saat mengalami kegagalan fungsi paru-paru dan jantung.

EMCO terdiri dari sebuah pompa dan beberapa tabung. Alat ini seakan-akan bertindak menggantikan fungsi jantung atau paru-paru yang lemah, selagi tim dokter memulihkan jantung atau paru-paru yang terserang penyakit sampai akhirnya bisa berfungsi normal kembali seperti sedia kala.

"Pompa akan menarik darah dari pasien melalui tabung, memompa darah melalui membran oxygenator dan kemudian kembali ke pasien. Membran oxygenator bertindak seperti paru-paru, menambahkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari darah," kata Jang Wen.

Adapun lamanya penggunaan ECMO tergantung dari perkembangan kondisi jantung atau paru-paru pasien. Menurut dia, biasanya alat medis ini digunakan ketika pasien mengidap myocarditis atau peradangan pada otot jantung akibat infeksi virus sehingga kerja jantung penderita turun drastis.

Namun, tidak jarang juga digunakan dalam kasus gagal jantung, serangan jantung dan shock kardiogenik di mana jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh, pascaoperasi jantung terbuka atau gagal napas. Pada beberapa kasus alat ini digunakan untuk menolong pasien yang mengalami kegagalan pernapasan akibat flu. Meskipun tingkat keberhasilan alat ini mencapai 70 persen, tak semua penderita dapat menggunakannya.

"Perlu justfikasi yang benar dari dokter, apakah pasien bisa diselamatkan atau tidak. Karena biaya yang mahal, yakni sekitar 100 ribu dolar," pungkas Jang Wen.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA