Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Benarkah Rokok Herbal Tak Berbahaya?

Jumat 10 May 2013 13:02 WIB

Rep: Neni Ridareni / Red: M Irwan Ariefyanto

Rokok Herbal

Rokok Herbal

Foto: allvoices.com

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA - Kini mulai dikembangkan jenis rokok herbal. Malah dikabarkan bahwa rokok herbal itu tidak berbahaya. Bahkan ada yang menyatakan bahwa tembakau itu tidak menyebabkan kanker, melainkan justru obat kanker.

Hal itu dibantah oleh Koordinator Quit Tobacco Indonesia Fakultas Kedokteran (FK) UGM Yayi Suryo Prabandari.  Menurut dia, herbal maupun rokok sintetis itu masih ada nikotinnya dan bisa menyebabkan gangguan jantung. ''Peneliti di Quit Tobacco Indonesia pernah meneliti rokok herbal ternyata tetap ada tembakaunya. Sehingga apabila rokok itu dinyalakan atau dikonsumsi, tetap saja satu batang rokok mengandung 7000 bahan kimia dan 69 diantaranya karsinogen. Sehingga hal itu berbahaya bagi perokok maupun orang yang terkena asap rokok (perokok pasif),''kata Yayi kepada ROL, Jum'at (10/5).

Menurut Yayi, soal rokok herbal tersebut sudah dilakukan pengujian di beberapa negara. Sehingga beberapa negara tetap melarangnya. Selama ini rokok herbal lebih banyak didistribusikan di negara-negara Asia.

Dia mengatakan lomunitas kretek dan petani menghembuskan isu bahwa tembakau itu obat kanker. ''Penelitian itu dilakukan oleh Prof Sukiman, tetapi belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.  Kalau hasil penelitian itu  belum masuk jurnal ilmiah, di tempat kami (red. Fakultas Kedokteran UGM) tidak akan menjadi referensi,''tutur dia.

Bahkan, dia menambahkan, sampai saat ini belum satu pun hasil penelitian ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional yang menyatakan bahwa tembakau itu bermanfaat bagi kesehatan.

Justru di Fakultas Pertanian UGM sedang melakukan penelitian tembakau itu menjadi salah satu disinfektan yakni sebagai salah satu campuran pembersih. Sekarang penelitian tersebut sedang dalam taraf pengujia. ''Kalau dari Fakultas Pertanian melakukan penelitian tembakau bukan untuk dikonsumsi manusia tetapi sebagai disinfektan. Mereka melakukan penelitian tersebut dengan alasan supaya apabila tanaman tembakau, masih bisa dimanfaatkan untuk yang  lain, karena  untuk bahan rokok lebih banyak bahayanya,'' kata kakak Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo ini.

Sebuah studi yang dilakukan oleh National Institute on Drug Abuse Intramural Research Program di Baltimore menemukan bahwa rokok kretek maupun  rokok yang menyatakan bebas bahan adiktif seperti rokok herbal, tetap mengandung kadar nikotin yang sama dengan rokok yang sudah ada selama ini. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA