Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Sangat Bahagia? Jangan Terlalu karena Kemungkinan Anda Mati Muda

Jumat 20 May 2011 15:53 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: CORBIS

REPUBLIKA.CO.ID, NEW HEAVEN, AS - Serba terlalu memang berakibat tidak baik. Bahkan terlalu gembira pun juga berbahaya. Periset menemukan bahwa anak-anak yang dinilai 'memiliki perasaan gembira tinggi' di sekolah aka meninggal lebih muda dari pada teman-teman sekolah lain yang biasa saja.

Itu terjadi, diyakini, karena mereka cenderung hidup kurang hati-hati dan dipenuhi pilihan gaya hidup tak sehat dan berbahaya.

Mereka juga cenderung mengalami penderitaan dalam masalah mental seperti depresi bipolar yang mudah mempengaruhi perubahan mood dari rasa bahagia ekstrem menjadi kesedihan yang melemahkan

Terlalu bahagia, terutama dalam waktu tak tepat, juga dapat memicu kemarahan orang lain. Itu pun meningkatkan risiko untuk diserang atau disakiti.

Studi itu dilakukan oleh bermacam universitas menganalisa detail anak-anak mulai dari tahun 1920 hingga usia tua.

Ilmuwan juga mengungkap bahwa berupaya keras untuk berbahagia juga kerap berakhir dengan perasaan depresi ketimbang sebelumnya. Pasalanya mereka melakukan upaya untuk meningkatkan mood mereka juga memicu perasaan dicurangi bila kenyataan berbeda dari yang diharapkan.

Artikel majalah yang sering menawarkan tip-tip bagaimana menjadi berbahagia juga disalahkan karena justru memperburuk depresi di dunia modern.

Satu studi mengkaji sejumlah partisipan yang diminta untuk membaca sebuah artikle yang mengulas bagaimana cara meningkatkan mood dan menggunakan salah satu tip itu untuk menguji seberapa efektif mereka.

Para partisipan kemudian mengambil saran--seperti menonton film-film bertema ringan, yang terjadi mereka justru melakukan konsentrasi terlalu keras, mencoba meningkatkan mood mereka alih-alih membiarkan terjadi secara alami.

Itu berarti ketika film berakhir, mereka sering merasa marah dan dikibuli oleh saran artikel tersebut ketika ternyata mengalami mood jauh lebih buruk dibanding sebelum mulai menonton.

Hanya saja, hasil dari studi tersebut, yang dipublikasikan dalam jurnal Perspectives on Psychological Science, mengungkap bahwa kunci kebahagiaan sesungguhnya jauh lebih sederhana, yakni hubungan penuh arti dengan teman-teman dan keluarga.

Professor June Gruber, penulis utama dari departemen psikologi Universitas Yale, mengatakan orang-orang yang secara aktif mencoba berbahagia berkata, "Ketika anda melakukan itu dengan motivasi atau harapan bahwa upaya itu bisa membuat anda bahagia, justru bisa menghadirkan kekecewaan dan menurunkan kebahagiaan.

"Alat prediksi terkuat dari kebahagiaan bukanlah uang atau pengakuan dari luar lewat sukses karena terkenal. Sederhana, yakni memiliki hubungan sosial penuh arti dengan orang-orang dekat anda."

"Itu berarti cara terbaik meningkatkan kebahagiaan anda adalah berhenti cemas apakah anda akan bahagia, sebaliknya alihkan energi anda untuk memupuk ikatan sosial yang anda miliki dengan orang lain. "Jika ada satu hal yang anda ingin fokus, fokuslah pada hal itu. Lalu biarkan semua berjalan sesuai kehendaknya,"

sumber : Telegraph
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA