Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Tim Dokter RS Dr Sardjito Berhasil Pisahkan Bayi Fetus in Fetu

Ahad 13 Des 2009 06:48 WIB

Red:

SLEMAN--Tim dokter bedah anak dari RS Dr Sardjito/FK-UGM Yogyakarta berhasil memisahkan bayi kembar siam fetus in fetu. Bayi kembar kini lahir melalui operasi sesar pada saat umur kehamilan 34 minggu, pada tanggal 16 November lalu.

Dan operasi pemisahan dilakukan pada saat bayi berumur 22 hari. Sebelumnya, tim dokter RS Dr Sardjito telah tujuh kali melakukan operasi semacam ini, dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda tergantung kasusnya.

Operasi sesar untuk mengeluarkan bayi itu juga harus cepat dilaksanakan, karena bila dibiarkan pertumbuhannya di dalam rahim dapat membahayakan jiwa ibunya sendiri.

Menurut ketua tim dokter bedah RS Sardjito yang menangani kasus ini, dr Rochadi SpB KBA, kejadian kembar siam semacam ini agak unik, karena salah satu bayi yang masih belum sempurna bentuknya menempel pada bagian pantat bayi lainnya yang sudah sempurna organ-organ tubuhnya.

Katanya, memang penempelan bisa terjadi di mana saja, seperti di bagian perut, kepala dan lainnya, tapi kejadian penempelan di pantat agak langka.

Secara fisik terlihat bayi yang belum sempurna tersebut terbungkus dalam kulit di bagian pantat bayi lainnya, yang telah sempurna organ-organ tubuhnya. Tampak seperti daging besar yang menempel pada pantatnya, bahkan terlihat hampir dua kali besar sang bayi normal.

''Kami harus cepat memisahkannya, karena bayi yang tak sempurna tersebut menjadi bersifat parasit pada bayi yang telah sempurna. Ia mengambil makanan dari bayi yang normal,'' kata Rochadi kemarin. Ia didampingi anggota tim bedah lainnya, yakni dr Tita Rosita dan dr Tunjung dan dr Nunik Agustriani.

Dr Tita menjelaskan operasi ini terbilang rumit karena harus dilakukan pada saat umur bayi masih 22 hari. Katanya, pada kasus bayi-bayi kembar siam lainnya, operasi biasanya dilakukan setelah bayi-bayi tersebut berumur enam bulan.

Saat lahir, dua bayi berkelamin laki-laki ini beratnya mencapai total 5,74 kg. Setelah bayi dipisahkan bayi yang telah sempurna organ-organ tubuhnya beratnya tinggal 1,7 kg, kata Tita.

Rochadi menjelaskan kasus seperti ini hanya terjadi pada 1 dari 500 ribu-1 juta kelahiran. ''Jadi cukup langka,'' katanya.

Biasanya juga, kejadian seperti ini 75 persen pada bayi perempuan, tapi kasus ini terjadi pada bayi laki-laki.

Menurut dia, kasus ini bisa terjadi karena pada saat tahap zigotik, pemisahan kembar monogotik (berasal dari pembuahan satu spermatozoa dan satu indung telur) berlangsung tak sempurna pada saat proses, sehingga tumbuh saling menempel.

Pada operasi tersebut, kata Tita, bagian tubuh bayi yang tumbuh tak sempurna harus dibuang, agar bayi yang telah sempurna tumbuhnya dapat tumbuh sempurna.

Saat ini, katanya, pasca operasi kondisi bayi tersebut telah normal. Ia sudah dapat menyusu pada ibunya. Kini beratnya telah mencapai 2.4 kg.

Sebelum oparasi, ''Kami mengkhawatirkan bayi normal itu akan mengalami gangguan pada dua kakinya, pada saluran pencernaan dan kemihnya. Tapi, saat ini bayi itu bisa menggerakkan kakinya, dan juga bisa buang air besar dan kecil,'' kata Tita.

Bayi ini adalah anak dari pasangan Bondan Kinanti dan Chandra Irawan, warga Piyungan, Bantul. Mereka menamakan bayinya Leon Heard Kinanda Plisma.

Untuk memperkuat kondisinya, kata Rochadi, bayi ini masih harus mendapatkan pasokan albumin dan tranfusi darah. Bayi ini kini dirawat di ruang ICU Dr Sardjito dan masih terus dipantau perkembangannya.

Rochadi mengatakan ia optimistik kemungkinannya kondisi bayi ini 90 persen akan membaik, asal bisa terjaga dari infeksi kuman dan mendapatkan pasokan nutrisi yang baik.

Anggota tim dokter lainnya, dr Nunik Agustriani, mengatakan biaya operasi ini sepenuhnya ditanggung RS Sardjito, dengan bantuan dari Jamkesos yang jumlahnya tak bisa menutupi keseluruhan biaya operasi ini.

''Kebetulan kedua orangtua bayi ini dari keluarga tak mampu,'' kata dia.

Sang ayah bayi ini memang hanya bekerja sebagai tukang tambal ban. Untuk itu, ia berharap ada donatur yang bisa meringankan beban rumah sakit, yang bersedia mendermakan dananya untuk menutup biaya operasi dan perawatan pasca operasi ini.

Ia mengaku belum bisa menjelaskan berapa biaya yang perlu disediakan untuk operasi dan perawatan pasca operasi. Tapi, katanya, biasanya untuk penanganan kasus-kasus seperti ini bisa menghabiskan dana Rp 150 juta sampai Rp 500 juta.

Sang ayah bayi tersebut berharap ada donatur yang bersedia membantu RS Dr Sardjito untuk merawat bayinya. ''Saya sendiri tak mampu, dan hanya bisa mengucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya atas kesediaan RS Dr Sardjito untuk menyelamatkan anak kami,'' kata dia. yoe/ahi

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES