Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

KH Hasan Basri, Penggagas Bank Syariah di Indonesia

Selasa 23 Sep 2008 04:09 WIB

Red:

Pada tanggal 17 Februari 1987, datang undangan kepada Hasan Basri untuk menghadiri suatu pertemuan internasional di Roma Italia. pertemuan itu diselenggarakan oleh Forum Dewan Kerjasama Negarawan dan Agamawan yang berpusat di New York Amerika SerikaT (AS). Peserta yang dipilih adalah representasi umat agama itu yang mendunia. Hasan Basri dari Indonesia, dianggap memenuhi kriteria itu.

Hasan Basri sendiri bertanya, ''Kenapa saya diundang?'' Bahkan pemerintah Indonesia pun tidak mengetahui. Ternyata, usul tersebut datang dari Helmut Schmidt yang pada tahun 1986 berkunjung ke Indonesia untuk mencari siapa yang dapat diundang dan tepat untuk mewakili umat Islam se-dunia.

Dalam sambutannya Hasan Basri mengutip sebuah hadis, yaitu,''Ada dua golongan manusia, apabila kalau dua golongan itu baik, maka baiklah umat manusia, dan kalau dua golongan itu buruk, maka buruklah umat manusia ini. (dua golongan itu ialah) ulama dan umara' (agamawan dan negerawan).''

Hasan Basri lahir 20 Agustus 1920, di Muara Teweh, kota kecamatan yang terletak 600 km di sebelah utara Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan. Dia adalah putra kedua pasangan Muhammad Darun dan Siti Fatmah.

Dalam usia tiga tahun Hasan Basri sudah menjadi yatim. Sepeninggal suaminya, Siti Fatmah membesarkan ketiga anaknya dengan bantuan ayahnya, Haji Abdullah, staf Landraad (sekarang pengadilan negeri) di Banjarmasin.

Pada siang hari, Hasan kecil belajar di Sekolah Rakyat. Sore digunakannya untuk belajar di sekolah Diniyah Awaliyah Islamiyah (DAI). Di sekolah DAI itu Hasan Basri sangat disayang oleh gurunya, Haji Abdullah, nama yang sama dengan nama kakek Hasan Basri.

Sekolah DAI memberikan pelajaran membaca Alquran, menulis dan membaca tulisan Arab, serta mempraktekkan ajaran dan ibadah Islam. Hasan adalah seorang murid cerdas. Dia selalu menjadi yang terbaik dari kelas satu. Karena itu pulalah, tatkala di kelas tiga, ia diminta gurunya untuk mengajar di kelas yang lebih rendah.

Menginjak masa remajanya, Hasan sudah keluar dari desa yang dicintainya untuk melanjutkan sekolah di Banjarmasin. Ia masuk Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah di Banjarmasin tahun 1935 dan tamat tahun 1938. Di sekolah itulah kali pertama ia berjumpa Buya Hamka, ketika ulama besar itu berkunjung ke Banjarmasin sebagai utusan Muhammadiyah Pusat. Tekad Hasan ketika itu ingin tampil seperti Buya Hamka, dapat berceramah dan pidato di depan umum.

Sesudah tamat MTs, Hasan melanjutkan sekolahnya di Pulau Jawa, yaitu di Sekolah Zu'ama Muhammadiyah di Yogyakarta, sejak 1938 hingga 1941. Sesudah tamat, ia menikah di usianya yang ke-21 dengan Nurhani.

Bersama sang istri, ia mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Marabahan, Kalimantan Selatan. Ia dan istrinyalah yang menjadi gurunya. Tahun 1944 sekolah ditutup karena situasi perang sudah merambat ke Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Selatan, ia sempat mendirikan Persatuan Guru Agama Islam.

Aktivitas Hasan Basri yang suka pidato, khutbah di masjid, dan ceramah di majlis taklim itu, menunjukkan cirinya tersendiri. Kebiasaan ini pulalah yang membawa Hasan Basri terjun ke gelanggang pergerakan politik dan kegiatan organisasi.

Ketika Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk, Hasan Basri diangkat menjadi anggota DPR mewakili provinsinya. Ia dan keluarganya pun berhijrah ke Jakarta. Ia aktif dalam partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang diikrarkan sebagai satu-satunya partai politik Islam.

Namun partainya dibubarkan pemerintah saat itu, tahun 1960. Maka, Hasan Basri sebagai anggota Pimpinan Pusat Partai Masyumi tidak dapat lagi bergerak dalam politik. Karena medan lapangan politik sudah dipersempit, terutama sesudah DPR-RI hasil pemilu yang pertama tahun 1955 dibubarkan oleh Sukarno maka ulama dan pemimpin Islam tidak lagi dapat menjalankan tugas politiknya.

Hasan Basri sebagai ulama dan zu'ama (pemimpin Islam) merasa tidak ada lagi organisasi pertai sebagai tempat menyalurkan pemikiran dan pandangan politik yang diyakininya. Ia memutuskan untuk menekuni jalan dakwah dengan caranya sendiri; langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat, mengawal moral dan akidah umat.

Hasan Basri juga dikenal sebagai penggagas lahirnya bank syariah di Indonesia. Mantan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia (BMI) Zaenulbahar Noor punya cerita menarik soal peran yang dilakukan almarhum KH Hasan Basri berkaitan dengan lahirnya BMI. Menurut dia, ketika JB Sumarlin menjabat sebagai Menteri Keuangan yang mengeluarkan Pakto (Paket Oktober) 1988, maka kemudian banyak sekali bank yang berdiri. Masyarakat pun terutama umat Islam banyak yang bertanya kepada almarhum bagaimana dengan bunga bank yang oleh sebagian kalangan dianggap haram.

KH Hasan Basri yang waktu itu menjadi ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendengar keluhan umat Islam tersebut. Ia pun menggelar seminar 'Bank Tanpa Bunga' di Hotel Safari Cisarua Agustus 1991 dengan mengundang pakar-pakar ekonomi, pejabat Bank Indonesia, menteri terkait, serta para ulama. Waktu itu ada tiga pendapat; ada yang menyebutkan bunga bank haram, bunga bank halal dan ada juga yang berpendapat bunga bank syubhat. Seminar itu meminta untuk KH Hasan Basri membawakan masalah itu ke dalam Munas MUI yang diadakan akhir bulan Agustus 1991.

Waktu itu, sambung Zaenul, Munas MUI memutuskan MUI mengambil prakarsa membuat bank tanpa bunga. Maka dibuatlah kelompok kerja yang diketuai oleh Sekjen MUI waktu itu HS Prodjokusumo. ''Beliau kemudian mencoba melobi Presiden Soeharto secara pribadi tapi resminya itu melalui Pak Habibie. Sehingga Soeharto setuju didirikannya Bank Muamalat,'' kenang Zaenul.

BMI lahir 1 November 1991, pada tanggal 3 Nopember dilakukan penghimpunan dana di Istana Bogor dan baru bisa beroperasi 1 Mei 1992. Dalam banyak kesempatan Hasan Basri sering mengatakan, kalau tidak karena tangan-tangan Tuhan, Bank Muamalat itu tidak lahir.

Yang menarik, ijin pendirian BMI terlalu lama dikeluarkan Menteri Keuangan Sumarlin. Itulah mengapa KH Hasan Basri kemudian melobi Pak Harto agar bisa mendesak Menkeu segera mengeluarkan ijin. ''Tiba-tiba besoknya, Menkeu menelpon almarhum dan menceritakan ijin BMI akan segera dikeluarkan,'' tambahnya.

( disarikan dari buku kh hasan basri 70 tahun/dam )

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Festival Panen Kopi Gayo

Rabu , 21 Nov 2018, 20:55 WIB