Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

H Djamaluddin Malik, Tokoh Sineas dari Nahdlatul Ulama

Ahad 21 Sep 2008 04:02 WIB

Red:

Kita mengenalnya sebagai tokoh perfilman nasional. Oleh teman-temannya, Djamaluddin Malik dikenal sebagai seorang dermawan. Dia ini menjadi bos atau raja seniman Senen -- pasar Senen waktu itu menjadi tempat "kencan" para seniman untuk membicarakan aneka problem bangsa. Kepada Djamaluddin inilah, para seniman yang saat itu jauh dari kehidupan glamor mengharapkan bantuan keuangan, baik sekadar untuk minum kopi, membeli buku, menonton sandiwara, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Ia membuka rumahnya selama 24 jam bagi siapa saja yang ingin datang. Kedermawanan tidak hanya pada orang yang dianggap miskin. KH Saifuddin Zuhri yang waktu itu baru pindah dari Semarang untuk dipromosikan menjadi pegawai tinggi di Departemen Agama Jakarta, juga pernah diberi sebuah rumah besar di kawasan Kebayoran Baru II.

Pertunjukan kesenian atau tonil banyak yang dibiayai Djamaluddin Malik secara pribadi. Hal itu di maksudkan untuk memacu perkembangan seni budaya nasional yang waktu itu sedang pada tahap rintisan.Bahkan Dr Mashudi, Sekjen Lesbumi, pengganti Hasbullah Khalid, ketika berjumpa Djamaluddin Malik di Kairo, tiba-tiba diberi uang poundsterling yang lumayan banyak, sehingga bisa digunakan untuk ongkos naik pesawat pulang dari Kairo ke Jakarta.

Bekerja pada perusahaan Belanda

Sebelum terjun ke dunia seni budaya, khususnya film, putera Minang kelahiran tahun 1917 ini bekerja di sebuah maskapai palayaran Belanda. Ia juga pernah bekerja di sebuah perusahaan dagang Belanda. Dari pengalaman bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda tersebut, dia memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai kiat berdagang dan manajemen perdagangan modern, dan sekaligus bisa menghimpun kekayaan.

Bakat entrepreneurship-nya berkembang dengan modal finansial yang memadai, sehingga dalam waktu yang relatif singkat ia menjadi saudagar yang kaya pada zamannya.

Ketika terjadi perebutan kekuasaan dari tangan Belanda ke tangan Jepang pada tahun 1942, di mana semua aset dan kekuasaan Belanda di ambil alih oleh Jepang, Djamaluddin mulai melangkahkan kaki untuk perjuangan dengan mendirikan kelompok sandiwara Panca Warna. Kelompok ini pentas keliling hampir di seluruh kota besar Indonesia untuk membangkitkan semangat juang dan cinta Tanah Air, untuk menghadapi penjajahan. Atas jasanya inilah ia diangkat sebagai seorang pahlawan Nasional. Drama Djamaluddin berjudul Ratu Asia, pernah di pentaskan di Garden Hall, Jakarta.

Pada masa kemerdekaan yakni tahun 1951 ia mempelopori berdirinya industri perfilman Indonesia dengan gaya Hollywood dengan mendirikan NV Persari (Perseroan Artis Republik Indonesia). Studio film yang berlokasi di Polonia Jatinegara berada di areal tanah yang sangat luas dan memiliki sarana yang lengkap, baik untuk latihan, shooting, dan pertunjukan film dan drama. Studio ini juga dilengkapi pula dengan perumahan para artis. Sejak awal ia memang ingin mengangkat kehidupan para artis, yang kebanyakan baru meniti karir dalam asuhannya sendiri.

Gedung ini sering dijadikan tempat pertemuan para seniman dan budayawan. Pertemuan para ulama NU juga sering kali diadakan di sini. Studio ini sangat produktif menghasilkan film, dengan produksi rata-rata delapan film setahun, sehingga ia tampil sebagai seorang produser film pribumi terbesar saat itu. Sementara itu usaha dagangnya juga terus berkembang pesat.

Dahaga rohani

Kesibukan yang luar biasa dalam dunia film dan perdagangan itu membuat Djamal merasa jauh dari agama, sehingga mengalami kekeringan dan kemiskinan rohani di tengah kekayaan materi yang melimpah. Menyadari bahwa hal itu akan membahayakan bagi keseimbangan hidupnya Djamal memutuskan untuk melakukan perjalanan fisik dan rohani ke Tanah Suci untuk mengisi kehausan rohaninya dengan menunaikan ibadah haji. Hal itu kemudian turut mengilhami lahirnya film Tauhid yang diproduksinya.

Ketika berada di Tanah Suci itulah timbul kesadarannya bahwa dirinya harus juga mengabdikan diri kepada kepentingan masyarakat dan agama. Maka ketika kembali ke Tanah Air tahun 1952, ia memilih Nahdlatul Ulama (NU) untuk berkiprah. Jauh hari sebelumnya, ia memang sudah aktif di Gerakan Pemuda Ansor Anak cabang Kebon Sirih Jakarta Pusat. Kehadirannya kedalam pangkuan Nahdliyin sangat dibutuhkan, sebab saat itu NU tengah merintis untuk menjadi sebuah partai politik tersendiri, di luar orbit Masyumi, sehingga tenaga dan pikirannya sangat dibutuhkan.

Walaupun semula komitmennya diragukan, namun ia bisa membuktikan bahwa niatnya ikhlas dan akhirnya berhasil menjadi tokoh NU yang tangguh dan disegani di dalam NU maupun oleh lawan politik NU. Selain itu Djamal merasa hanya dalam NU itulah kebutuhan rohaninya terpenuhi, sebab kerohanian yang ada dalam NU (sufisme) adalah sesuatu yang dicarinya selama ini.

Walaupun telah aktif di NU aktivitasnya di dunia film tidaklah berhenti. Justru melalui NU itulah dia ingin rintisannya itu bisa lebih berkembang, dan beberapa pengurus NU daerah menghidupi aktivitas politik dan kebudayaan organisasinya dengan menjadi distributor film yang dibuatnya.

Aktivitasnya di bidang politik berujung pada tuduhan ia bersimpati pada pemberontakan PRRI, sehingga mengakibatkannya dipenjara pada tahun 1958. Namun tak lama ia mendekan di hotel prodeo, karena secara logika, tak mungkin sebagai orang NU ia terlibat, sebab NU secara resmi mengutuk pemberontakan tersebut.

Ia kemudian melanjutkan pengurusan yayasan Amanat yang dirintis oleh KH Wahid Hasyim. Dari situ kemudian ia mendirikan PT Timbul yang kemudian menerbitkan Harian Duta Masyarakat yang menjadi organ partai NU.

Djamaludin juga berhasil meyakinkan para ulama NU mengenai pentingnya mendirikan sebuah lembaga kebudayaan, untuk keperluan untuk menampung dan mengembangkan bakat kesenian yang tumbuh di pesantren dan NU. Menurut pandangan dia, bidang ini sangat efektif untuk sarana dakwah.

Kesenian, kata dia, sangat penting sebagai sarana perjuangan melawan kezaliman dan kemungkaran yang banyak di lakukan oleh PKI dengan lembaga kebudayaannya. Maka berdirilah Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), yang pada konggres pertama di Bandung 1962 ia dikukuhkan sebagai ketua umum Lesbumi dengan dibantu Usmar Ismail sebagai ketua I dan Asrul Sani ketua II.

Ketika ia terpilih sebagai Ketua II PB partai NU, maka jabatan ketua umum Lesbumi ditinggalkan kemudian di ganti oleh Usmar Ismail. Karena keahliannya di bidang manajemen, maka dalam PB NU ia mendapat tugas berat yakni membenahi manajemen NU agar sesuai dengan manajemen partai modern, serta mendapat tugas pelik yaitu infentarisasi dan sertifikasi tanah-tanah wakaf milik NU yang berserakan itu. Mengingat berpolitik adalah mengabdi, maka walaupun ia seorang hartawan, diterima tugas berat tersebut dengan sepenuh hati.

Peristiwa poitik bersejarah yang pernah di perankan adalah, ketika menjadi anggota DPR GR dari partai NU, ia bersama Nuddin Lubis membuat petisi menolak pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno di hadapan MPRS tahun 1966, sehingga Soekarno harus merevisi pidato tersebut.

Djamaludin meninggal tak lama setelah itu di Munich, Jerman, saat berobat kesana. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera II (Adipurna) dan pada tahun 1973 dikukuhkan sebagai pahlawan nasional.

( disarikan dari situs www.nu.or.id )

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES