Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Pengembangan Ekonomi Syariah Mulai dari Regional

Sabtu 03 Agu 2019 06:40 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Bank Indonesia (BI) menggelar Festival Ekonomi Syariah (FESyar) regional Sumatera di Palembang, Sumatera Selatan pada 2-4 Agustus 2019.

Bank Indonesia (BI) menggelar Festival Ekonomi Syariah (FESyar) regional Sumatera di Palembang, Sumatera Selatan pada 2-4 Agustus 2019.

Foto: Republika/Lida Puspaningtyas
Tingkat ekonomi daerah yang tinggi membantu meningkatkan pertumbuhan nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Bank Indonesia (BI) meyakini pengembangan ekonomi syariah harus dimulai dari perwilayah. Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menyampaikan penguatan di wilayah dilakukan dari sektor riilnya.

Baca Juga

"Maka kita perlu terus mendorong agar para pelaku industri halal meningkatkan usahanya," kata Dody dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) 2019 di Aryaduta Hotel, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (2/8).

Ia mencontohkan Palembang yang dipilih jadi tempat pelaksanaan Fesyar untuk regional Sumatera. Kota yang dulu bernama Kesultanan Palembang Darussalam ini memiliki pertumbuhan ekonomi 5,68 persen pada kuartal I 2019, di atas pertumbuhan nasional sebesar 5,07 persen.

Dengan tingkat ekonomi tinggi, maka dapat membantu meningkatkan pertumbuhan nasional. Dody mengatakan BI juga memiliki tugas untuk menguatkan ekonomi syariah dari wilayah sebagai upaya mengawal inflasi dan nilai tukar. 

"Inflasi dan nilai tukar akan tetap jadi masalah dan tidak bisa terobati kalau masalah di sistem keuangan dan riilnya tidak berkembang," kata Dody.

Ekonomi syariah telah didaulat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru karena sesuai karakteristik Indonesia yang mayoritas Muslim. Ekonomi halal menjadi kebutuhan yang dapat menggerakkan sektor-sektor riil tersebut.

BI berkomitmen agar Fesyar dan rangkaiannya akan memperkuat sistem rantai nilai halal. Di dalamnya, ada kegiatan untuk mempertemukan produk dengan pembeli, penjual dengan investor, dan ekosistem syariah terkait.

"Thailand sudah klaim sebagai pusat kuliner halal dunia, Jepang dengan destinasi pariwisata halalnya, Australia dengan pasokan daging halalnya, kita juga harus ambil bagian," kata Dody.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Yunita Resmi Sari menyampaikan Fesyar kali ini jadi ajang pertemuan seluruh pelaku usaha ekonomi dan keuangan. Termasuk pondok pesantren, perguruan tinggi, praktisi, lembaga ziswaf, perbankan syariah, UMKM, asosiasi, hingga organisasi masyarkat.

Untuk membantu meningkatkan pemasaran terhadap produk lokal, ada 84 booth yang ikut dalam Shari'a Fair. Selain itu juga ada target pertemuan bisnis baik antara pelaku bisnis dengan eksportir, mau pun perbankan syariah.

Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Dadang Muljawan menambahkan membangun infrastruktur seperti ini memang tidak cukup waktu lima tahun. Perlu komitmen dan upaya berkelanjutan agar ekonomi syariah dapat benar-benar menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

Ekonomi global saat ini menghadapi ketidakpastian sehingga dapat membawa ketidakstabilan pada ekonomi nasional Indonesia. "Ekonomi nasional adalah satu penopang baru yang harus terus dikembangkan agar menjadi kuat," kata dia.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA