Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Wisata Halal Dinilai Perlu Dijadikan Prodi Perkuliahan

Kamis 07 Mar 2019 22:45 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Wisata Halal

Ilustrasi Wisata Halal

Foto: Foto : MgRol112
Wisata halal mengutamakan pelayanan dan fasilitas berbasis syariah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) mengusulkan agar wisata halal, haji, dan umrah menjadi mata kuliah sekolah tinggi pariwisata. Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwandar, dibandingkan membuat mata kuliah, membuat wisata halal, haji dan umroh menjadi sebuah program studi, menurut dia, jauh lebih efektif.

Baca Juga

“Sekolah pariwisata dan fakultas wisata, tinggal tambah prodi tentang wisata halal, yang didalamnya membahas manajemen, sertifikasi dan hal teknis lain,” jelas Sapta saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (7/3).

Terkait wisata, menurut Sapta, wisata halal tidak jauh berbeda dengan wisata konvensional. Namun memang lebih mengutamakan pelayanan dan fasilitas berbasis syariah. Namun, lanjut dia, perlu adanya pemahaman lebih mengenai manajemen, dan hal teknis lain yang sesuai dengan prosedur keislaman.

“Karena banyak orang yang ingin berwisata dengan fasilitas berbasis syariah,” kata dia.

Untuk mengembangkan wisata halal di Indonesia, menurut Sapta, pemerintah harus lebih serius, terlebih jika memang ingin membentuk penjurusan mengenai wisata halal. Perkembangan wisata halal di Indonesia sendiri, lanjut dia, memang cukup memprihatinkan, padahal, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

Sebelumnya, Chairman IITCF, Priyadi Abadi, mengatakan mata kuliah mengenai wisata halal, haji dan umroh penting disusun dan diajarkan agar wisata Muslim berkembang secara masif di Indonesia. "Mahasiswa kita yang akan terjun ke industri pariwisata halal, umrah, dan haji, harus sudah dibekali sedini mungkin tentang kejuruannya," kata Priyadi, kepada Republika.co.id di Jakarta, Selasa (5/3).

Priyadi menjelaskan, di perkuliahan pariwisata itu terdapat mata kuliah umum dan mata kuliah kejuruan. Mata kuliah umum ini seperti psikologi dan kewirausahaan. Sementara di mata kuliah kejuruan, sudah spesifik dalam hal penjurusan dan biasanya dimulai pada semester tiga.

Priyadi memaparkan, mata kuliah wisata Muslim nantinya bisa diisi dengan pengenalan dasar-dasarnya terlebih dulu. Misalnya, mengenai perbedaan umrah dan haji. Kemudian terkait misalnya apa itu wisata Muslim, dan apa bedanya dengan wisata umum.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA