Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Wisata Halal Diusulkan Masuk Jadi Mata Kuliah

Selasa 05 Mar 2019 20:28 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

 Destinasi wisata halal di Sumatera Selatan (Sumsel) Bait Alquran atau Alquran Akbar yang berupa mushaf Alquran terbuat dari lembaran kayu setinggi 2 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter. Berwarna dasar coklat dengan tulisan timbul berwarna emas.

Destinasi wisata halal di Sumatera Selatan (Sumsel) Bait Alquran atau Alquran Akbar yang berupa mushaf Alquran terbuat dari lembaran kayu setinggi 2 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter. Berwarna dasar coklat dengan tulisan timbul berwarna emas.

Foto: Republika/Maspril Aries
Wisata Muslim di Indonesia tengah menjadi tren bahkan juga di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) mengusulkan agar wisata halal, haji, dan umrah menjadi mata kuliah sekolah tinggi pariwisata. 

Baca Juga

Chairman IITCF, Priyadi Abadi, mengatakan mata kuliah tersebut penting disusun dan diajarkan supaya wisata Muslim berkembang secara masif di Indonesia.

"Mahasiswa kita yang akan terjun ke industri pariwisata halal, umrah, dan haji, harus sudah dibekali sedini mungkin tentang kejuruannya," kata Priyadi, kepada Republika.co.id di Jakarta, Selasa (5/3).

Priyadi menjelaskan, di perkuliahan pariwisata itu terdapat mata kuliah umum dan mata kuliah kejuruan.

Mata kuliah umum ini seperti psikologi dan kewirausahaan. Sementara di mata kuliah kejuruan, sudah spesifik dalam hal penjurusan dan biasanya dimulai pada semester 3.

"Ini yang saya inginkan bahwa adik-adik mahasiswa kita pada saatnya nanti sudah punya bekal menghadapi wisata halal," kata dia.

Apalagi, kata dia, saat ini kampus-kampus pariwisata sudah banyak bermunculan dan berkembang dari sisi jenjangnya. 

Tidak sekadar akademi pariwisata atau sekolah pariwisata yang notabene terbatas pada strata 1, sekarang ada magister pariwisata dan bahkan ada jenjang S3 untuk pariwisata.

"Total ya ada puluhan sekolah pariwisata. Ada sekolah pariwisata, ada akademi pariwisata, dulu pun saya dari akademi pariwisata, sekarang menjadi sekolah tinggi pariwisata, lalu S2-nya magister pariwisata, lalu ada S3 di (Universitas) Udayana," paparnya.

Karena itu, menurut Priyadi, sebetulnya gengsi pariwisata itu sudah mengglobal dan tidak kalah dengan misalnya kedokteran. 

Namun dia mengakui, saat ini mata kuliah yang dipelajari di berbagai sekolah tinggi pariwisata masih mainstream.

"Seperti ticketing, sementara dunia ini berubah. Harus diperkenalkan juga apa sih yang update. Seperti wisata halal maupun wisata Muslim," ungkap dia.

Priyadi memaparkan, mata kuliah wisata Muslim nantinya bisa diisi dengan pengenalan dasar-dasarnya terlebih dulu. 

Misalnya, mengenai perbedaan umrah dan haji. Kemudian terkait misalnya apa itu wisata Muslim, dan apa bedanya dengan wisata umum.

"Setelah itu, baru kita melihat teknis pelaksanaannya seperti apa, potensinya bagaimana, mekanismenya seperti apa, peluangnya seperti apa, termasuk permasalahan-permasalahan di dalamnya, seperti tipu-menipu. Mahasiswa juga harus tahu misalnya skema ponzi itu apa," katanya.

Priyadi mengingatkan, mahasiswa adalah bagian dari akar rumput masyarakat. Dengan adanya mata kuliah pariwisata Muslim, mahasiswa bisa ikut terlibat dalam menyosialisasikan program pemerintah terkait pariwisata Muslim kepada keluarga dan para kerabatnya.

"Kalau mahasiswa sudah dibekali, setidaknya kan menyosialisasikan program pemerintah dalam rangka meminimalisir persoalan-persoalan umrah yang terjadi saat ini, yang penipuan-penipuan saat ini," ucapnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA