Senin, 21 Syawwal 1440 / 24 Juni 2019

Senin, 21 Syawwal 1440 / 24 Juni 2019

Potensi Besar Industri Halal Indonesia

Ahad 24 Feb 2019 07:15 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda

Sertifikasi halal sebagai upaya strategis dalam menyajikan produk untuk masyarakat.

Sertifikasi halal sebagai upaya strategis dalam menyajikan produk untuk masyarakat.

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Peningkatan sektor riil halal diharapkan dorong pertumbuhan produk keuangan syariah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri halal pada tahun ini menjadi sektor prioritas yang akan dikembangkan oleh pemerintah melalui master plan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) 2019. Peningkatan industri ini diperkirakan juga akan mendorong pertumbuhan keuangan syariah nasional.

Dengan belanja (spending) yang sangat besar yakni 218,8 miliar dolar AS pada 2017, berdasarkan laporan Global islamic Economy, Indonesia merepresentasikan pasar industri halal terbesar di dunia. Nilai ini akan terus bertambah sekitar  compound annual growth rate (CAGR) atau rasio pertumbuhan rata-rata gabungan lima sampai enam persen per tahun. 

Baca Juga

Namun, posisi Indonesia secara global masih belum dapat melampaui besarnya potensi tersebut, yakni peringkat 10 dari 15 negara tertinggi dalam perkembangan ekonomi syariah. Menurut Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwandar, sektor wisata halal merupakan sektor yang akan mendorong pertumbuhan industri halal di Indonesia.

"Pariwisata salah satu yang cukup besar kontribusi ke industri halal. Karena wisata halal itu sudah mencakup seluruhnya, lokasi wisata, makanan dan lainnya hingga mencakup sektor riil," ujar Sapta kepada Republika.co.id, Jumat (22/2).

Apalagi saat ini pemerintah juga sudah fokus untuk destinasi halal. Karena wisata telah menjadi gaya hidup masyarakat sehingga potensinya harus dimanfaatkan. Berdasarkan data laporan Global Islamic economy Summit, belanja wisata halal tercatat turn over 184 miliar dolar AS pada 2017, terutama dari negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) yang jumlahnya relatif sedikit, tetapi mempunyai rata-rata spending sampai 5.000 dolar AS per kunjungan. Pada 2023, diperkirakan pangsa pasar wisata halal akan mencapai 177 triliun dolar AS.

Peningkatan sektor riil halal melalui wisata halal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan produk keuangan syariah. "Kalau demand besar (sektor riil), maka perbankan syariah bisa lebih berkembang," kata Sapta.

Sementara itu sektor makanan dan minuman halal, saat ini telah menjadi sektor dengan potensi terbesar di Indonesia. Pada 2017, belanja produk makanan dan minuman halal Indonesia mencapai 170,2 miliar dolar AS. Sektor ini merupakan yang terbesar dari industri halal, dan dapat berkontribusi sekitar 3,3 miliar dolar AS dari ekspor Indonesia ke negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI), sekaligus negara-negara non OKI dengan jumlah penduduk Muslim jutaan, seperti Prancis dan Inggris.

photo

Fashion Muslim

Sektor selanjutnya yang sangat berpotensi yakni fashion muslim. Munculnya desainer-desainer fashion hijab, seperti Dian Pelangi, telah membawa fashion muslim Indonesia mengglobal. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sekitar 30 persen dari pelaku industri usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bergerak di fashion Muslim. Dari sekitar 120 juta penduduk perempuan Indonesia, sekitar 30 persen atau 40 juta perempuan menggunakan pakaian muslimah. Angka ini sangat besar untuk potensi pasar satu negara. 

Tidak hanya di dalam negeri, banyaknya desainer fashion hijab ke kancah dunia juga telah meningkatkan ekspor fashion Muslim Indonesia. Lebih lanjut data Kemenperin menyebutkan bahwa 80 persen produk pakaian Muslim dijual untuk pasar domestik, sedangkan 20 persen dijual di pasar ekspor.

"Fashion kita tidak ada kompetitor. Makanya ini sangat potensial. Dari tiga sektor: food, fashion, tourism, strategi kita bisa dapat tambahan 3,8 miliar dolar AS per tahun, dan jumlah tenaga kerja 170 ribu," jelas Sapta.

Perkembangan teknologi juga mendorong tumbuhnya berbagai media recreation dan startup islami, seperti Muslim Pro yang menyediakan arah kiblat, jadwal sholat, hingga lokasi masjid. Selain itu, Thailand dan Pakistan mengembangkan aplikasi halal scan yang dapat mendeteksi kehalalan suatu produk dengan melakukan scan pada barcode produk. "Sayangnya di Indonesia belum ada," imbuh Sapta.

photo

Ketua Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar memberikan sambutan dalam pembukan The 2nd Indonesia Internasional Halal Lifestyle Expo & Conference (INHALEC) di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (19/10). Ajang INHALEC 2017 ini diharapakan dapat mengembangkan industri halal di Indonesia yang berlangsung 19-21 oktober 2017.

Industri kosmetik, juga sudah mulai mengikuti jejak Wardah untuk menggunakan label halal. Pada sektor kesehatan dan pendidikan, rumah sakit islam berstandar syariah dan adanya sekolah modern islam juga telah meningkatkan sektor industri halal. Namun, menurut Sapta, saat ini baru ada satu rumah sakit berstandar syariah yakni RS Islam Sultan Agung di Semarang yang menjadi pilot project rumah sakit berstandar syariah di Indonesia.

Film dan musik religi juga termasuk menjadi bagian dari industri halal. Sedangkan farmasi atau obat-obatan halal menjadi salah satu yang sulit untuk dikembangkan karena umumnya bahan-bahan untuk obat terbuat dari bahan yang tidak halal, seperti gelatin. 

Namun, menurut Sapta, industri farmasi dan obat-obatan halal dapat berkembang apabila pelaku industri mau berkomitmen melakukan riset produk bahan halal. Apalagi, Indonesia merupakan salah satu pengguna obat-obatan terbesar di dunia.

Potensi-potensi tersebut diharapkan bisa ditangkap oleh pemerintah dan dapat dikembangkan agar dapat berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi. "Kita harus menangkap potensi ini, dan mengekspor produk halal. Sehingga dapat mengurangi defisit transaksi berjalan yang sekarang semakin besar," kata Sapta. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA