Jumat, 18 Syawwal 1440 / 21 Juni 2019

Jumat, 18 Syawwal 1440 / 21 Juni 2019

Jadi Agregator Pembiayaan Syariah, Fintech Ini Bantu 10 UKM

Rabu 21 Nov 2018 16:25 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolanda

Fintech (ilustrasi)

Fintech (ilustrasi)

Foto: flicker.com
Perseroan menerapkan model bisnis yang berpedoman pada nilai Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Alami Teknologi Sharia mengaku terus mengalami peningkatan jumlah penerima pembiayaan. Perusahaan Financial technology (fintech) ini menyebutkan, dalam enam bulan terakhir telah membantu 10 Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia, dengan total pembiayaan sebesar Rp 20 miliar.

CEO dan Founder Alami Dima Djani menyebutkan, peningkatan tersebut didukung oleh teknologi Alami yang dapat melakukan screening atau menyaring pembiayaan dalam waktu satu hari. "Persentase keberhasilan screening diterima oleh mitra institusi keuangan syariah sebesar 80 persen," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu, (21/11).

Selanjutnya, kata dia, mitra terkait akan melakukan verifikasi data calon penerima pembiayaan sesuai Standard Operating Procedure (SOP) sebelum proses pencairan dana. Dalam penyediaan layanan syariah bagi para UKM, Alami menggandeng lima mitra institusi keuangan syariah yakni Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah, Bank Mega Syariah, Jamkrindo Syariah, serta KapitalBoost. 

Dima menjelaskan, fintech Alami menghadirkan solusi berbentuk platform pembiayaan UKM dengan mengedepankan nilai keadilan dan keterbukaan. Hal itu sebagai komitmen perusahaan dalam menerapkan bisnis model bersifat sharia driven yang selangkah lebih maju dari penerapan Syariat Compliance. 

"Salah satu bentuk implementasi sharia driven yang kami terapkan di antaranya memberikan pendampingan bagi penerima pembiayaan berupa kerja sama pelatihan usaha dalam mengembangkan kualitas keuangan serta usaha para UKM," jelas Dima. Maka, tambahnya, kemitraan yang terwujud tidak hanya fokus pada profit maximization namun impact maximization yakni bertujuan moral untuk berbuat baik, menghasilkan dampak sosial, juga membangun sistem keuangan bagi semua.

Melalui platform tersebut, kata dia, perusahaan fintech yang berdiri pada 29 Desember 2017 ini diharapkan bisa berperan aktif dalam mengembangkan ekosistem ekonomi syariah bersama para stakeholder. Sekaligus mewujudkan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDG), selaras dengan program yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

"Kini, dari 80 UKM yang telah mendaftar di platform Alami, sudah ada 50 UKM yang lolos screening awal. Sekarang mereka berada pada tahap analisa pihak mitra institusi keuangan syariah," kata Dima. 

Dirinya menjelaskan, penerima pembiayaan Alami diharuskan UKM yang bergerak di industri halal seperti manufaktur, perdagangan, jasa kesehatan, pendidikan, dan lainnya. Untuk mencegah adanya pembiayaan bermasalah atau Non Performing Finance (NPF), saat ini, Alami pun menghindari penyaluran pembiayaan ke beberapa sektor. 

Melalui Alami, UKM dapat mengajukan pembiayaan ke institusi keuangan syariah mulai dari Rp 200 juta. "Kalau maksimal pengajuan pembiayaannya tidak kita tentukan, namun biasanya kalau butuh dana yang sangat besar, biasanya perusahaan sudah mempunyai akses langsung ke bank, maka maksimal sekitar Rp 30 miliar, karena defisini UKM di setiap bank pun berbeda-beda," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA