Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

BNI Syariah Tunjukkan Kinerja Positif

Kamis 08 Nov 2018 20:47 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini

Karyawan melayani transaksi nasabah di kantor layanan BNI Syariah, Jakarta, Senin (5/11).

Karyawan melayani transaksi nasabah di kantor layanan BNI Syariah, Jakarta, Senin (5/11).

Foto: Republika/Prayogi
BNI meraup kenaikan laba bersih di atas 24 persen hingga kuartal III 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak resmi menjadi Bank Umum Syariah (BUS) pada 2010 lalu, BNI Syariah terus berupaya meningkatkan kinerjanya. Berbagai produk syariah pun ditawarkan.

Hingga kuartal III 2018, BNI Syariah menunjukkan kinerja positif. Dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 306,6 miliar, naik 24,3 persen dari September 2018 sebesar Rp 246,6 miliar.

Sementara, aset BNI Syariah pada kuartal III tahun ini mencapai Rp 38,9 triliun atau naik sebesar 21,5 persen secara year on year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 14,2 persen.

Dari sisi bisnis, BNI Syariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 26,9 triliun atau naik 19,3 persen yoy. Kontribusi pembiayaan terbesar pada segmen konsumer sebesar Rp 13,6 triliun atau 50 persen. Diikuti oleh segmen komersial sebesar Rp 6,1 triliun (22,5 persen), segmen Kecil dan Menengah Rp 5,8 triliun (21,5 persen), segmen Mikro Rp1,0 Triliun (3,8 persen) dan Hasanah Card Rp394 Miliar (1,5 persen).

Selain pembiayaan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp 33,5 triliun atau naik 21,4 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 9,6 persen (data SPS per Agustus 2018 BUS-UUS) dengan jumlah nasabah sebesar 2,8 juta.

Sebelumnya, Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan pencapaian kinerja perusahaan yang positif ditunjang oleh pertumbuhan pembiayaan yang berkualitas. Juga ekspansi dana murah serta efisiensi operasional sehingga menghasilkan profitabilitas yang optimal.

"Alhamdulillah, secara umum kinerja BNI Syariah terus tumbuh secara konsisten di atas rata-rata industri," kata dia. Peningkatan efisiensi dengan meningkatkan ekspansi dana murah (CASA) yakni melalui kerja sama dengan institusi, Perguruan Tinggi, sekolah dan komunitas salah satunya program pelatihan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) untuk optimalisasi manajemen keuangan masjid di 10 kota.

Per September 2018 komposisi DPK didominasi oleh dana murah (giro dan tabungan) mencapai 54,19 persen. Angka itu meningkat dibanding posisi sama tahun lalu sebesar 48,70 persen. 

Selain itu, untuk menjaga beban operasional agar tetap efisien BNI Syariah bersinergi dengan BNI Induk dalam hal shared services. Operasional perbankan lainnya serta optimalisasi marketing communication melalui channel digital dan online termasuk sosial media.

"BNI Syariah menyediakan solusi yang komprehensif melalui produk dan layanan kepada institusi antara lain pembiayaan komersial dan SME, Payroll, Cash Management, Griya Swakarya, dan Financial Institution," kata Abdullah.

Sementara untuk nasabah individu, produk dan layanan BNI Syariah antara lain pembiayaan Griya, Hasanah Card, Fleksi, Wakaf Hasanah, Tabungan, Giro, Deposito, dan Tabungan Haji iB Baitullah. BNI Syariah juga ikut berperan dalam mengembangkan Halal Ecosystem antara lain Halal Food, Halal Tourism, Halal Fashion, ZISWAF, Haji dan Umroh.

Dalam meningkatkan layanan kepada nasabah, BNI Syariah melakukan pengembangan teknologi baik melalui sinergi dengan BNI Induk maupun pengembangan sendiri. Hal itu seperti sinergi aplikasi Cash Management (BNI Direct, Virtual Account, dan E-Collection) dan sinergi E-Channel (Debit, ATM, SMS Banking, Internet Banking, dan Mobile Banking).

Selain itu Sharia Channeling Outlet (SCO) yaitu Kantor Cabang BNI yang dapat melayani transaksi syariah tersebar di 1.584 kantor layanan SCO dan call center BNI 1500046. Pengembangan yang dilakukan sendiri oleh BNI Syariah di antaranya aplikasi digital Wakaf Hasanah, Hasanah Personal, dan Hasanah Lifestyle, Financing Origination System berbasis mobile, Human Resource Integrated System, Whistle Blowing System (WBS), dan Risk Management System.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES