Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Ekonomi Halal Diminati Dunia

Kamis 03 Mei 2018 11:29 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Teguh Firmansyah

Produk dengan label halal terpajang di salah satu supermarket di Jakarta. ilustrasi (Republika/Prayogi).

Produk dengan label halal terpajang di salah satu supermarket di Jakarta. ilustrasi (Republika/Prayogi).

Foto: Republika/Prayogi
Ketertarikan ke ekonomi halal tak terlepas dari pertumbuhan jumlah umat Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonomi halal menjadi perhatian dunia, tak hanya negara Muslim. Ketertarikan terhadap ekonomi halal tak terlepas dari pertumbuhan umat Islam yang terus terjadi.

"Halal ekonomi memberi kesempatan untuk menuju ke era keemasan," ujar pendiri dan CEO Dinar Standard Rafi'uddin Shikoh dalam acara workshop Global Halal Industry di Hotel Grand Sahid Jaya, Kamis (3/5).

Bukan hanya perkembangan Islam sebagai agama kedua di dunia, kata ia, adanya larangan dan adat penyajian daging yang menekankan kesucian dan nilai kehidupan juga menjadi daya tarik terhadap ekonomi halal.

Penyajian daging ini dianggap menarik bahkan bagi non-Muslim. Tak heran, industri halal saat ini sedang mendapatkan daya tarik di Eropa, Amerika Utara serta Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

 

Baca juga, BI Gandeng Pesantren Kembangkan Ekonomi Syariah.

 

Menurutnya, bicara produk halal, bukan saja mengenai makanan, melainkan juga obat, kosmetika, pembiayaan, bahkan juga wisata halal. Saat ini potensi bisnis industri halal di dunia sangat besar yang kian meningkat seiring bertambahnya waktu dan populasi muslim.

Ia menjelaskan, saat ini tercatat ada sekitar 1,82 miliar penduduk muslim di dunia. Pada 2025 diproyeksikan penduduk muslim akan mencapai 2,7 miliar atau mencakup 30 persen dari penduduk dunia.

Menurut Global Islamic Economy Report pada 2016/2017 nilai belanja makanan dan gaya hidup (food and lifestyle sector expenditure) Muslim di sektor halal dunia mencapai 1,9 triliun dolar AS atau Rp 26,527 kuadriliun pada 2015 dan diperkirakan akan naik menjadi 3 triliun dolar AS atau setara Rp 41,885 kuadriliun pada 2021.

Global Islamic Economy Report 2016/2017 juga menempatkan Malaysia, United Arab Emirates dan Bahrain secara berurutan di peringkat teratas sebagai negara yang paling berkembang dalam industri halal di dunia.

Malaysia berada pada peringkat pertama karena kinerjanya yang kuat di sektor keuangan Islam dengan jumlah aset yang besar, pemerintahan yang maju dan memberikan dukungan penuh dan memiliki nilai kesadaran tertinggi.

Indonesia semestinya sangat layak menjadi hotspot bisnis halal dunia. Apalagi ditunjang dengan populasi yang meningkat serta negeri yang kaya dengan berbagai potensi sumber daya alam.

Selain sebagai salah satu negara terpadat di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 265,4 juta jiwa pada 2017. Indonesia juga memiliki jumlah umat Muslim tertinggi di dunia. Terdapat lebih dari 87 persen umat Muslim dari total penduduk di Indonesia. Apalagi didukung dengan atmosferstartup yang cukup baik."Ada beberapa startup kenamaan dari Indonesia seperti Gojek, Traveloka, Hijup dan lainnya," katanya.

Ia pun optimis dengan kehadiransebuah platform halal marketplace yang bernama Yoohalal.com dariPT Halal Digital Indonesia bisa meningkatkan industri halal.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES