Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Pakistan akan Terbitkan Sukuk Global

Senin 16 Oct 2017 08:35 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

Sukuk (ilustrasi)

Sukuk (ilustrasi)

Foto: The middle east magazine online

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Pakistan akan menerbitkan sukuk internasional tahun ini meski stabilitas makro ekonomi dan politik mereka tengah jadi perhatian.

Kementerian Keuangan Pakistan berencana untuk menerbitkan sukuk global senilai satu miliar dolar AS bertenor lima tahun pada Novemver mendatang. Dana sukuk ini akan dipakai untuk menutup defisit anggaran dan menipisnya cadangan valas.

Para analis menyatakan keputusan Pakistan untuk menerbitkan sukuk merupakan bagian pelengkap penerbitan obligasi yang diterbitkan Pakistan pada Juli dan September lalu.

''Isu utama yang dihadapi Pakistan adalah kejenuhan pasar terutama di pasar obligasi. Beberapa obligasi bahkan tengah berjuang untuk bertahan,'' mata Kepala Bidang Riset Ashmore Group, Jan Dehn seperti dikutip Nikkei Asian Review, Ahad (15/10).

Masuk ke pasar sukuk, Pakistan mungkin akan terhindar dari kejenuhan pasar obligasi.

Investor internasional akan memperhitungkan pertumbuhan ekonomi Pakistan dibanding melebarnya defisit anggaran. Defisit itu terus menekan pemerintah Pakistan dalam membayar utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF).

Perusahaan konsultan risiko pasar keuangan asal AS, Eurasia Group menyampaikan, Pakistan mungkin akan mengeluarkan paket kebijakan ekonomi atau mendevaluasi mata uangnya atau melakukan keduanya untuk mengatasi persoalan yang mereka hadapi.

Pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) mencapai 5,3 persen per Juni 2017 lalu, naik dari 4,8 persen untuk periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini dipicu konsumsi yang kuat dan perbaikan produksi sektor pertanian dan industri. Di awal Oktober lalu, Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Pakistan menjadi 5,5 persen untuk 2017 ini.

Defisit anggaran Pakistan sendiri membengkak dari 148,5 persen menjadi 12,09 miliar dolar AS sepanjang tahun ini. Penyebabnya adalah peningkatan impor minyak dan mesin untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur. Impor ini merupakan bagian insiatif One Belt and One Road yang diinisiasi Cina.

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA