Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Adiwarman Karim Nilai Muamalat Butuh Strategic Investor

Ahad 08 Oct 2017 20:00 WIB

Rep: Iit Septyaningsih / Red: Reiny Dwinanda

Pengamat Ekonomi Syariah sekaligus Presiden Direktur Karim Consulting Indonesia Adiwarman Karim

Pengamat Ekonomi Syariah sekaligus Presiden Direktur Karim Consulting Indonesia Adiwarman Karim

Foto: Republika/Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Direktur Karim Consulting Indonesia (KCI) Adiwarman Karim menilai tambahan modal belum cukup untuk bisa memulihkan Bank Muamalat dalam jangka waktu dekat.

Dengan tambahan modal sebesar Rp 4 triliun pun, Muamalat belum akan mampu menjadi bank menjadi sehat, kuat, dan stabil di Desember 2018. 

Untuk bisa mencapai predikat tersebut, Adiwarman mengatakan Muamalat memerlukan tambahan bisnis baru dengan nilai Rp 20 triliun di 2018. 

"Oleh karena itu, yang diperlukan bukan sekadar investor baru, tapi strategic investor yang juga dapat membawa tambahan bisnis baru," jelas Adiwarman.

Menanggapi akuisisi Muamalat oleh PT Minna Padi Investama Tbk, Adiwarman mengatakan hal tersebut dapat memberi pijakan bagi Muamalat untuk menjadi sehat kuat dan stabil hingga semester I 2020.

Ia memprediksi keberhasilan Muamalat di 2019 nantinya memungkinkan pertumbuhan bisnis anorganik di awal 2020. Salah satunya ialah dengan mengakuisisi bank syariah lain.

Adiwarman juga menyoroti postur dan gestur bank. Muamalat harus melakukan upaya penyehatan pembiayaan bermasalah agar lebih kredibel. Dengan begitu tingkat recovery bisa mencapai 50 persen hingga 70 persen. 

"Dalam beberapa kasus bahkan recovery dapat mendekati 90 persen," ujarnya.

Selain itu, Adiwarman mengapresiasi kembalinya Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai pemegang saham. Ia memandang ini merupakan salah satu komponen keberhasilan membangun postur serta gestur bank. 

Selama ini saham MUI di bank Muamalat sangat kecil. Saham mayoritas bank syariah pertama di Indonesia tersebut dikuasai oleh asing, yakni sebanyak 32,7 persen saham dikuasai Bank Pembangunan Islam (IDB) lalu 19 persen dan 17 persen lainnya dipegang oleh Atwill Holdings Limited serta National Bank of Kuwait. 

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA