Saturday, 8 Zulqaidah 1439 / 21 July 2018

Saturday, 8 Zulqaidah 1439 / 21 July 2018

Nilai Belanja Produk Halal Tumbuh Pesat

Rabu 24 May 2017 03:16 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Budi Raharjo

label halal

label halal

Foto: Tahta Aidila/Republika

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dalam beberapa tahun terakhir, nilai belanja produk halal tumbuh pesat. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Akhmad Akbar Susamto menilai, hal ini merupakan peluang yang sangat besar bagi Indonesia.

Menurut data yang dirilis oleh Thompson Reuters, pada tahun 2015 belanja penduduk Muslim pada produk barang dan jasa lebih dari 1,9 triliun dolar AS, tumbuh 6 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran makanan dan minuman mencatat penjualan terbesar dengan nilai 1,2 triliun dolar AS.

Selanjutnya, pakaian (243 miliar dolar AS), media dan rekreasi (189 miliar dolar AS), travel (151 miliar dolar AS) dan obat-obatan dan kosmetik (133 miliar dolar AS). Di saat yang sama, total aset sektor keuangan syariah ditaksir sebesar 2 triliun dolar AS.

"Perkembangan industri halal ini didorong oleh semakin meningkatnya kesadaran konsumen, terutama konsumen muslim, untuk mengonsumsi produk-produk halal," ujar Akbar dalam Seminar 'Meraup Peluang Emas Bisnis Halal Global' di Jakarta, Selasa (23/5).

Ia menuturkan, menurut Pew Research Centre, populasi Muslim dunia tahun 2015 mencapai 1,8 miliar jiwa atau 24,1 persen dari total populasi dunia. Angka ini tumbuh 2,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, kualitas produk halal juga sudah semakin bermutu. Ini ditopang oleh semakin maraknya riset halal dan makin ketatnya implementasi standardisasi halal.

Pada industri makanan misalnya, produk-produk berlabel halal berkembang menjadi semakin aman, higienis, dan ramah lingkungan. Begitu pula di sektor keuangan berbasis syariah. Di saat sektor keuangan dan perbankan konvensional ramai-ramai mengembangkan highly risky product yang kemudian memicu terjadinya krisis keuangan global, sektor perbankan syariah tidak masuk dalam arus itu.

"Beberapa keunggulan tersebut membuat produk halal tidak hanya memikat hati konsumen Muslim, namun juga non-Muslim," kata Akbar.

Saat ini semakin banyak produsen berskala nasional maupun global yang masuk ke segmen halal ini. Perusahaan kimia terbesar di dunia, BASF, misalnya, telah mengantongi 145 sertifikasi halal untuk produk pembersih wajah, sabun dan detergen. Begitu pula Nike, produsen utama pakaian olahraga dunia, juga telah berencana meluncurkan hijab khusus untuk olahraga.

Dengan demikian, ia menegaskan bahwa Indonesia jangan tertinggal untuk mengembangkan potensinya yang besar dalam industri ini. "Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia harus dapat memanfaatkan potensi ini," kata Akbar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA