Minggu, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 Desember 2018

Minggu, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 Desember 2018

Pengembangan Ekonomi Syariah Jangan Hanya Terpaku pada Perbankan

Kamis 03 Nov 2016 00:13 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Budi Raharjo

Ekonomi syariah (ilustrasi)

Ekonomi syariah (ilustrasi)

Foto: aamslametrusydiana.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG –- Peneliti Islam dari Australia, Minako Sakai, menyatakan pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia jangan hanya berorientasi pada dunia perbankan semata. Perkembangan ekonomi syariah harus melihat inovasi sosial secara langsung yang berbasis industri kreatif.

“Ekonomi syariah jangan hanya di seputaran perbankan saja. Memang di perbankan (syariah di Indonesia) saja masih minim. Tapi kita harus melihat inovasi sosial yang berbasis lain yang bisa membantu kebutuhan (ekonomi) masyarakat secara langsung,” kata Minako Sakai kepada Republika di sela-sela kegiatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) Tahun 2016 di Bandar Lampung, Rabu (2/11).

Menurut dia, perkembangan ekonomi syariah sejak diluncurkan pada 1990, masih belum menggembirakan. Kalau diukur dari angka pertumbuhannyanya masih minim di bawah lima persen.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia, ia mengungkapkan, praktisi ekonomi syariah harus merubah orientasi. Maksudnya, ia mengemukakan dunia perbankan jangan dijadikan ukuran dalam berkembangan dan tumbunnya ekonomi syariah di Indonesia.

“Jadi, lebih baik kita melihat hal itu dengan upaya-upaya dan usaha yang sesuai dengan syariah. Upaya tersebut dengan memberikan kesempatan seperti industri kreatif masyarakat memakai nilai-nilai syariah,itu lebih baik dikembangkan di masyarakat,” katanya.

Menurut dia, bila potensi ekonomi syariah yang terdapat pada industri kreatif yang menyentuh kebutuhan masyarakat langsung, hal tersebut akan menjadi kontribusi Islam terhadap perekonomian global.

Peneliti dari University of New South Wales (UNSW) Australia tersebut mengatakan, tumbuhnya lembaga keuangan syariah seperti Baitul Mal wat-Tanwil (BMT) di Indonesia sangat baik, karena menyentuh langsung kebutuhan ekonomi masyarakat. “Belum ada dimana pun BMT seperti di Indonesia, ini menjadi potensi ekonomi syariah,” ujar dosen di Australian National University, Canberra, Australia.

Selain itu, ia mengemukakan belum lagi potensi zakat yang dikembangkan lembaga tertentu, sehingga dapat menopang ekonomi masyarakat yang dikelola secara syariah. Menurut dia, inovasi ekonomi syariah yang seperti ini perlu diupayakan. “Pergerakan masyarakat Indonesia untuk melakukan aktifitas sosial tanpa bantuan asing dan juga tanpa dukungan pemerintah mulai berkembang,” katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES