Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Akibat Kemarau, Petambak Udang Panen Dini

Selasa 09 Jul 2019 16:35 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Andi Nur Aminah

Pekerja memberi pakan udang vanamei di areal tambak desa Singaraja, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (25/6/2019).

Pekerja memberi pakan udang vanamei di areal tambak desa Singaraja, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (25/6/2019).

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Kondisi itupun mengganggu budidaya tambak udang dan bandeng di Kabupaten Indramayu.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Musim kemarau dengan suhu udara yang panas telah membuat tingkat salinitas (kadar garam terlarut dalam air) menjadi bertambah tinggi pada lahan tambak. Kondisi itupun mengganggu budidaya tambak udang dan bandeng di Kabupaten Indramayu.
 
Kondisi itu seperti yang dialami petambak yang akrab disapa Kaleng, di Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi. Musim kemarau saat ini telah memaksanya untuk panen dini udang vanamei yang dibudidayakannya. "Umur udangnya masih kurang dari dua bulan. Tapi sudah saya panen, soalnya sudah banyak udang yang mati," ujar Kaleng, Selasa (9/7).
 
Kaleng mengatakan, musim kemarau telah membuat tingkat salinitas bertambah tinggi seiring berkurangnya pasokan air tawar di dalam tambak. Kondisi tersebut, membuat udang tidak bisa bertahan hidup.
 
Akibat panen dini, Kaleng pun tak bisa meraup keuntungan. Dari 50 ribu benih udang vanamei yang dibudidayakannya, hasil panennya hanya sekitar 20 kilogram. Padahal, jika dipanen dalam kondisi normal berumur tiga bulan, hasil panen bisa mencapai hingga lima kuintal. "Ukuran udang yang dipanen juga kecil-kecil, hanya size 23 (1 kg berisi 23 ekor)," terang Kaleng.
 
Kondisi serupa juga dialami petambak udang di Blok Pulomas, Desa Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, Kadim dan Tariwang. Mereka juga mengaku memanen udang sebelum waktunya karena udang tak tahan hidup dalam kondisi cuaca seperti sekarang. "Daripada nanti mati semua, lebih baik dipanen dini meski belum waktunya," terang Kadim, yang dibenarkan oleh Tariwang.
 
Sementara itu, berbeda dengan udang yang rentan mengalami kematian akibat kondisi cuaca panas seperti sekarang, ikan bandeng yang dibudidayakan di tambak relatif lebih bisa bertahan hidup. Namun meskipun demikian, pertumbuhan ikan bandeng menjadi sangat lambat.   
 
"Bandeng memang tidak mati, tapi badannya gak besar-besar," tutur seorang petambak bandeng di Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Tano.
 
Tano menyebutkan, hingga kini masih bertahan untuk tidak memanen bandengnya. Meski dia mengakui, jika kemarau sudah mencapai puncaknya pada bulan depan, maka ikan bandeng di dalam tambak juga bisa terancam mati. "Sekarang saya biarkan saja," kata Tano.
 
Dalam kondisi normal, ikan bandeng baru dipanen setelah berumur enam bulan. Saat panen itu, bobot ikan mencapai size 3 (satu kilogram isi tiga ekor bandeng). Sedangkan saat ini, bobot bandeng diperkirakan hanya mencapai size 7 hingga size 8 (satu kilogram isi tujuh sampai delapan ekor bandeng). 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA