Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Fenomena Hujan Es Saat Kemarau di Aceh, Ini Penjelasan BMKG

Senin 08 Jul 2019 20:50 WIB

Red: Andri Saubani

[ilustrasi] Warga menyaksikan saluran irigasi mengering akibat suplai air terhenti dari Embung Lam Badeuk, di Desa Lam Badeuk, kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (8/7/2019).

[ilustrasi] Warga menyaksikan saluran irigasi mengering akibat suplai air terhenti dari Embung Lam Badeuk, di Desa Lam Badeuk, kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (8/7/2019).

Foto: Antara/Ampelsa
Fenomena hujan es terjadi di lima desa di Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( bmkg ) Aceh menyebut, fenomena turunnya hujan es bisa saja terjadi di satu wilayah, meski keadaan cuaca bertolak belakang akibat sedang musim kemarau yang memungkinkan kebakaran hutan dan lahan. Seperti diketahui, fenomena langka berupa hujan es berukuran sebesar gundu telah melanda wilayah dataran tinggi di Aceh yakni pada lima desa dari total 10 desa di Kecamatan Jagong Jeget, aceh tengah , Ahad (7/7) siang.

"Ada dua kejadian kemarin saling bertolak belakang, seperti di Aceh Tengah ada hujan es dan di tempat lain timbulnya titik panas," ucap Kepada Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Aceh, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, Senin (8/7).

Zakaria mengaku, fenomena di Aceh Tengah memang sangat jarang terjadi. Tetapi, lanjutnya, bukan suatu hal yang tidak mungkin, mengingat wilayah Aceh Tengah merupakan salah satu daerah dataran tinggi wilayah tengah di Aceh.

Ia menerangkan, sangat lazim terjadi hujan es pada satu wilayah dataran tinggi akibat sering mengalami hujan yang bersifat sangat lokal di satu tempat, sedangkan di tempat lain panas terik melanda. "Hujan es biasanya terjadi di satu daerah yang bersifat lokal dan dengan durasi singkat, yakni berkisar antara 7 - 12 menit saja," kata dia.

Ia menegaskan, syarat terjadi hujan es hampir mirip dengan angin kencang puting beliung akibat adanya awan Cumulonimbus (Cb), sehingga kedua fenomena alam ini sangat sulit diprediksi. Tetapi syarat utama hujan es, lanjut dia, harus memiliki dasar awan Cb yang sangat rendah di lapisan atmosfer dengan permukaan tanah, dan lapisan paling bawah awan ini memiliki suhu udara sangat dingin.

"Kristal-kristal es ini yang mulai jatuh sebagai hujan, karena dorongan angin kencang dari lapisan awan Cb. Kristal itu tidak sempat mencair akibat di lapisan bawah permukaan awan Cb juga dingin, sehingga butir-butir es tersebut jatuh ke permukaan tanah," jelasnya.

"Sedangkan di tempat yang muncul titik panas, maka daerah ini tak mengalami hujan. Dedaunan mulai rontok, semak belukar, hutan dan lahan sudah sangat kering, sehingga mudah terbakar. Baik faktor kesengajaan maupun kelalaian," tegas Zakaria.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh, Teuku Ahmad Dadek mengatakan, fenomena hujan es berukuran sebesar gundu melanda di lima desa dari total 10 desa di Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah, Ahad (7/7). "Hujan es di lima desa, yakni Paya Dedep, Paya Tungel, Jeget Ayu, Jaging Jeget, dan Bukit Kemuning di Aceh Tengah," ucap

Ia memaparkan, peristiwa yang termasuk jarang ini berlangsung secara singkat. Terjadi cuma sekitar 10 menit, mulai pukul 14:15 WIB hingga 14:25 WIB. Ketika hujan es berlangsung, keadaan cuaca tengah terik-teriknya akibat musim kemarau di Aceh.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA