Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Pengamat: Produksi Naik karena Mentan Mampu Bawa Amanat UU

Rabu 30 Jan 2019 09:01 WIB

Red: EH Ismail

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengunjungi peternakan ayam.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengunjungi peternakan ayam.

Bukti penerapan UU adalah program Serasi (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langkah Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman yang sering turun ke lapangan bertemu petani, sangat tepat untuk mengetahui persoalan mendasar petani dan lahan pertanian di seluruh Indonesia. Dewan Pembina Institute Agroekologi Indonesia (INAgri) Achmad Yakub, mengapresiasi kinerja Andi Amran Sulaiman selama menjabat sebagai Menteri Pertanian.

"Kita harus menghargai kinerja Pak Amran. Saya lihat beliau jarang banget di Ragunan. Justru dia lebih banyak di lapangan. Itu memang karakter dia. Tapi saya harap dalam setiap turun ke lapangan, Pak Amran tetap menerapkan pendekatan UU perlindungan dan pemberdayaan petani," kata Yakub, Jumat (25/1).

Yakub mengatakan, pemberdayaan dan perlindungan itu sudah diatur dalam bentuk Undang-undang 41 tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Nah, selama ini, secara personal maupun kelembagaan, Kementan dinilai mampu membawa amanat UU tersebut sehingga berdampak pada peningkatan produksi.

"Bukti dari penerapan UU itu adalah program Serasi (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani). Dengan Serasi produksi padi dan horti meningkat. Menurut saya Kementan sudah menjalankan amanat itu. Kementan mampu menetapkan tata ruang wilayah di provinsi dan nasional serta membedakan mana yang disebut lahan pertanian dan non pertanian," ujarnya.

Meski demikian, Yakub mengingatkan agar Kementan mempersulit konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Misalnya, kata dia, ketika sebuah lahan pertanian dijadikan pabrik, maka konsekuensinya adalah mengganti lahan pertanian tadi menjadi tiga kali lipat.

"Ketika sebuah lahan sudah disebut sebagai kawasan pertanian, maka konsekuensinya harus ada irigasi dan dipersulit untuk terjadinya konversi tanah ini menjadi non pertania. Kan UU yang saya sebut tadi sudah mengaturnya," katanya.

Yakub juga mengapresiasi trobosan Serasi karena program ini belum pernah dilakukan oleh menteri menteri di era sebelumnya. Walau demikian, program ini sebaiknya ditetapkan dengan kebijakan dan aturan yang ketat.

"Saya kira program rawa ini belum pernah dilakukan oleh para menteri sebelumnya. Makanya menurut saya bagus sekali karena bisa meningkatkan produksi. Saya setuju, tetapi harus ditetapkan dengan kebijakan," katanya.

Yakub menambahkan, Kementan di bawah kepemimpinan Amran Sulaiman harus memastikan Nilai Tukar Petani (NTP) tetap naik dan menurunkan kemiskinan petani di Kota maupun di Desa serta menggenjot produksi.

"Saya berharap kementan memperhatikan kelembagaan petani dan petaninya, NTP harus tetap naik, daya beli di pedesaan juga stabil, tingkat kemiskinan kota dan desa juga trenya menurun. Dengan demikian bisa selaras antara kinerja produksi dengan kesejahteraan petani," katanya.

Mengenai hal ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan program serasi adalah langlah strategis yang akan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Program Serasi telah mengembangkan ribuan lahan rawa menjadi pertanian produktif. lahan ini diyakni mampu meningkatkan provitas padi dari 2,7 hingga 3,0 ton/ hektare menjadi 5,0 hingga 6,5 ton/ hektare.

"Program Serasi juga ditargetkan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari 1 kali tanam menjadi dua sampai tiga kali tanam (IP300) yaitu menanam padi, padi, jagung atau padi, padi, kedelai dalam satu tahun," kata Amran.

Adapun total lahan rawa yang dioptimalisasikan dalam Program ini luasnya mencapai 274 ribu hektare terdiri dari lahan lebak dan pasang surut yang tersebar di delapan kabupaten/kota.

Kabupaten Banyuasin memiliki lahan rawa pasang surut terluas hingga 130 ribu hektare, kemudian disusul oleh OKI dengan 65 ribu hektare, Musi Banyuasin 33 ribu hektare, Ogan ilir 20 ribu hektare, OKU Timur 10 ribu hektare, Muara enim 10 ribu hektare, PALI 5 ribu hektare, dan Muratara 1000 hektare.

"Contoh keberhasilan Pengelolaan lahan rawa lebak sudah ditunjukkan di Kab. Ogan Ilir. Produktivitas dapat mencapai 6,5 ton/ hektare yang tadinya tidak bisa dikelola masyarakat karena selalu tergenang dan kemasaman tanah yang tinggi," pungkasnya.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES