Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Upaya Kementan Antisipasi OPT pada Cabai di Musim Hujan

Kamis 10 Jan 2019 16:23 WIB

Red: EH Ismail

Ilustrasi lahan penanaman cabai di Tuban, Jawa Timur.

Ilustrasi lahan penanaman cabai di Tuban, Jawa Timur.

Hingga saat ini virus kuning dan patek (antraknosa) menjadi penyakit utama cabai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memasuki awal 2019, curah hujan tinggi menyebabkan tanaman cabai terserang banyak organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti penyakit virus kuning, antraknosa dan lalat buah. Kendati demikian, Kementerian Pertanian (Kementan) telah jauh-jauh hari menyiapkan upaya preventif.

Kepala Sub Direktorat Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal  Hortikulutura, Kementerian Pertanian (Kementan), Nadra Illiyina Chalid mengungkapkan, hingga saat ini virus kuning dan patek (antraknosa) masih menjadi penyakit utama tanaman cabai. Petugas POPT setempat telah merekomendasikan pengendalian dua penyakit serta lalat buah tersebut dengan penggunaan varietas tahan atau toleran.

Menurut Nadra, petani dianjurkan untuk menggunakan benih yang berkualitas, cara pesemaian yang benar, penggunaan plastik mulsa hitam perak, eradikasi selektif pada tanaman terserang/sakit, pemasangan perangkap untuk mengurangi kutu kebul dan pemanfaatan musuh alami, aplikasi pestisida untuk kutu kebul.

"Serangan hama penyakit pada tanaman cabai sebenarnya dapat dikendalikan sedini mungkin, bila petani menerapkan pengendalian OPT cabai secara ramah lingkungan dengan menggunakan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan, menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu,” kata Nadra saat meninjau tanaman cabai di Tuban, Jawa Timur, Kamis (10/1).

Petugas POPT selalu mengajak petani mendahulukan pengendalian secara pre-emptif yang diintegrasikan dengan sistem budidaya tanaman. Selain itu diikuti pengendalian secara responsif berdasarkan hasil pengamatan di lapang.

“Yakni sejak perencanaan sampai panen, termasuk pemilihan lahan, bibit yang sehat, pemeliharaan intensif dan pemantauan secara rutin,” ucap Nadra.

Secara terpisah Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf menjelaskan, Kementan bersama jajaran Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) serta Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit(LPHP) atau Lab Agens Hayati terus mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi pengendalian OPT dengan menggunakan bahan dan sarana pengendali yang ramah lingkungan.

"Salah satunya dengan menggunakan likat kuning untuk pengendalian aphid yang menjadi vektor virus kuning, aplikasi trichokompos dimulai saat penyiapan lahan untuk menekan cendawan pengganggu tumbuhan, Harapannya, penerapan budidaya ramah lingkungan pada tanaman cabai semakin luas, sehingga mengurangi gangguan OPT,” tutur Sri.

Perlu diketahui, Kabupaten Tuban salah satu sentra produksi cabai di provinsi Jawa Timur khususnya di Kecamatan Montong dan Bancar. Daearh ini, tidak luput dari serangan penyakit utama seperti penyakit virus kuning, antraknosa dan lalat buah.

Penyakit-penyakit tersebut menyerang tanaman berumur 90 hingga 135 hari dengan luasan 6,5 hektare. Intensitas serangan dikategorikan ringan sampai dengan berat. Hal ini disebabkan petani cabai belum optimal menjalankan anjuran yang diberikan petugas lapang (POPT/PHP).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA