Rabu, 16 Syawwal 1440 / 19 Juni 2019

Rabu, 16 Syawwal 1440 / 19 Juni 2019

Kementan Akui Ada Masalah di Distribusi Pangan

Selasa 04 Des 2018 18:00 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Gita Amanda

Menteri Pertanian Amran Sulaiman berjalan disamping kendaraan yang akan mendistribusikan bahan pokok untuk Toko Tani Indonesia (TTI) di Jakarta, Senin (6\2).

Menteri Pertanian Amran Sulaiman berjalan disamping kendaraan yang akan mendistribusikan bahan pokok untuk Toko Tani Indonesia (TTI) di Jakarta, Senin (6\2).

Foto: Tahta Aidilla/Republika
Indonesia merupakan wilayah kepulauan bukan daratan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Distribusi menjadi kendala utama dalam komoditas pertanian di Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan wilayah kepulauan, bukan daratan seperti banyak negara besar lainnya.

Staf Ahli Bidang Investasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Hari Priyono mengatakan, kondisi Indonesia yang kepulauan tersebut pula yang menyebabkan tidak berlakunya hukum supply and demand. "Distribusi dan logistik mengambil margin yang cukup besar," ujarnya dalam diskusi media di Gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Kementan, Selasa (4/12).

Ia mencontohkan produksi di Nusa Tenggara Timur (NTT) memerlukan waktu lama untuk dikirim ke Pulau Jawa. Begitu juga dengan produksi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memenuhi kebutuhan di Jawa. Selama ini banyak pihak termasuk pengamat, ia melanjutkan, membandingkan Indonesia dengan negara lain, misalnya Thailand dan Amerika. "Mereka continental," ujar dia.

Ia menjelaskan, produksi pertanian selalu ada namun kerap dipertanyakan kebenarannya karena harga yang tinggi. Padahal, produksi tersebut benar ada hanya saja, di beberapa titik tertentu sementara harga menjadi indikator dalam mengambil keputusan.

Indikator harga ini pula yang membuat pemerintah memilih melakukan impor. Kementan sebenarnya bukan anti-impor, namun berharap pengaturan yang tepat mislanya tidak melakukan impor pada panen raya. "Kalau butuh, dimungkinkan untuk impor secara bijaksana," tegas dia.

Selain masalah tersebut, persoalan pangan yang dihadapi Indonesia adalah pasar internasional. Pasar internasional secara ekonomi mempengaruhi kondisi dalam negeri misalnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina.

Terjadinya perang dagang antara kedua negara sebenarnya merupakan peluang. Kondisi tersebut membuat Cina akan memperluas investasi mitra kerja sebagai dampak dari AS yang menutup atau mengenakan impor tinggi atas komoditias Cina. "Meski belakangan diberitakan mereda, tapi tetap akan mewarnai," ujarnya.

Selain itu, harga internasional beberapa komoditas ekspor unggulan seperti kelapa sawit, karet dan kopi perlu menjadi perhatian. Menurut hari, Indonesia perlu menyikapinya dengan memperbaiki daya saing guna berkompetisi di dunia internasional.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA