Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Pasokan Sayur Mayur Aman Jelang Natal dan Tahun Baru

Senin 03 Dec 2018 22:50 WIB

Red: EH Ismail

Pedagang melayani pembeli bahan makanan pokok di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (26/12).

Pedagang melayani pembeli bahan makanan pokok di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (26/12).

Foto: Republika/ Wihdan
Persediaan aneka sayur mencapai titik distribusi untuk warga di Jabodetabek

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jelang Perayaan Natal dan Tahun Baru 2019 mendatang, persedian sayur mayur untuk peta Jabodetabek aman. Hal ini dipastikan setelah para petani di sejumlah daerah, di Jawa Barat menghasilkan panen yang mulus dengan jumlah stok yang cukup.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Panggu Pay Bandung, Ulus mengatakan, sejauh ini persedian aneka sayur mencapai titik distribusi untuk persediaan warga di Jabodetabek, khususnya warga DKI Jakarta.

"Selama ini produksi sayuran kelompok tani kami sebagian besar dipasok ke Jakarta, seperti Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Senen dan Tokoh Tani Indonesia Center (TTIC) Kementan di Pasar Minggu. Kami berharap semua pasokan dapat memenuhi kebutuhan warga Jabodetabek, khususnya warga Jakarta," kata Ulus, Sabtu (1/12).

Menurut Ulus, jumlah stok Gapoktan Panggu Pay bahkan sudah dilihat secara langsung oleh Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Hubungan Masyarakat M Amir Pattu saat berkunjung ke Lembang, Bandung pada Selasa (27/11).

"Pak Amir sudah melihat langsung jumlah stok kami di Lembang. Jadi, sekali lagi, saya memastikan jumlah stok untuk memenuhi kebutuhan Natal dan Tahun Baru di Jabodetabek dan Jakarta aman," ujarnya.

Sementara itu, kebutuhan sayur mayur dan kebutuhan daging secara nasional juga dipastikan aman. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (PKH) I Ketut Diarmita mengatakan, ada sekitar 35.845 ton daging sapi yang hingga kini masih terus diproduksi.

Kebutuhan dan ketersediaan daging bahkan surplus 11.219 ton. Ketut menjelaskan, jumlah tersebut masih akan ditambah melalui impor sapi dan daging sebanyak 30.679 ton dengan komponen impor sapi sebanyak 18.217 ton atau setara 91.543 ekor sapi.

"Termasuk juga potensi surplus pada telur ayam. Bahkan jumlahnya bisa mencapai 795.071 ton pertahun atau 66.256 ton perbulan," tutur Ketut.

Sekedar diketahui, sejumlah harga komoditas di Pasar Induk Kramat Jati masih normal. Harga kentang misalnya, saat ini pedagang menjual dengan harga Rp 7.700 perkilo. Sedangkan untuk buah tomat berkisar Rp 5.500 perkilo, cabai merah kriting Rp 13 ribu, cabai merah biasa Rp 20 ribu. Untuk harga cabai rawit merah berkisar Rp 14 ribu dan cabai rawit hijau Rp 12 ribu, bawang merah Rp 20 ribu dan bawah putih berkisar Rp 14 ribu perkilo.

"Yang lain juga normal. Harga kelapa kupas bahkan hanya 8 ribu per kilo, buah jeruk 20 ribu per kilo, buah semangka 4.600 per kilo dan harga daging sapi yang berkisar di Rp 90 hingga 100 ribu per kilo. Tidak ada kenaikan lain kecuali kol," kata dia. 

Masyarakat Puas

Stabilnya bahan pokok membuat sejumlah warga mengapresiasi kinerja pemerintah. Galeo Rubadi (37 tahun), penjual tongseng di Mako Kopassus Cijantung merasa puas dengan kebijakan pemerintah.

"Kalau bisa harganya tetap stabil meski beberapa hari lagi memasuki Natal dan Tahun Baru. Soalnya setiap hari saya pasti belanja bahan pokok. Ya, saya berharap jangan sampai naik lah," kata Rubadi saat ditemui di sentra bumbu dapur Blok A Pasar Induk Kramat Jati.

Selain Rubadi, dampak stabilnya harga bahan pokok juga dirasakan Aam Aminatun (41). Menurut Aam, sejak setahun ini Pasar Induk Kramatjati jarang mengalami kenaikan. Ada pun kenaikan terjadi hanya pada saat Ramadhan.

"Tapi engga melambung banget seperti tahun-tahun sebelumnya. Paling kisaran naiknya, hanya 1000. Yang naik itu paling harga daging, harga telur atau harga beras. Kalau komoditas sayur jarang naik," kata dia.

Data BPS

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Indonesia mengalami surplus beras sebanyak 2,85 juta ton. Berdasarkan perhitungan luas panen, diperkirakan produksi Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 49,65 juta ton hingga September 2018. Sampai akhir tahun, diperkirakan total produksi GKG 2018 mencapai 56,54 Juta ton atau setara dengan 32,42 Juta ton beras.

 

 

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA