Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

KTNA: Impor Beratkan Petani

Sabtu 03 Nov 2018 14:14 WIB

Red: EH Ismail

Pekerja membajak sawah dengan sapi di lahan pertanian Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (2/11/2018).

Pekerja membajak sawah dengan sapi di lahan pertanian Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (2/11/2018).

Foto: ANTARA FOTO
Petani hanya ingin bertani dan mendapat untung dari usaha pertaniannya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Data baru produsi beras metode Kerangka Sampling Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) membuat petani resah. Ketua Umum Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan, kalangan petani khawatir data baru BPS akan membuat pemerintah memutuskan kembali melakukan impor beras.

“Kalau data begini kan harus segera impor, itu yang kami keberatan,” kata Winarno dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id.

Menurut Winarno,  petani hanya ingin bertani dan mendapat untung dari usaha pertaniannya. Saat ini, petani sedang semangat melakukan upaya-upaya dalam usaha pertaniannya, mendadak kecewa jika mendengar pemerintah mengimpor beras.

“Kalau bahasa pepatahnya mah, karena nila setitik, rusak sebelanga. Udah dipupuk bagus, sampai (Kementan) membantu mesin panen dan lain-lain, pengering juga akan dikasih. Tapi kalau impor kayak gimana kecewanya,” ujarnya.

Winarno menjelaskan, Kementerian Pertanian (Kementan) era Kabinet Bekerja, sangat terlihat usahanya dalam mendukung dan membantu keperluan petani.

“Saya kan pernah diajak  Menteri (Amran Sulamaiman) kunjungan ke daerah. Cuma kuat maksimal tiga hari. Setelah itu saya ijin karena ada agenda KTNA. Sementara Menteri itu nggak kelihatan lelah mengunjungi petani,” tutur Winarno.

Kementerian Pertanian terus meningkatkan sarana dan prasarana pertanian, serta luas lahan pertanian. Sebagai contoh, pencapaian program Upaya Khusus (Upsus) yang berhasil menambah Luas Tanam Padi di Kabupaten Sragen. Pencapaian Luas Tambah Tanam Padi periode Oktober 2017 – September 2018 seluas 109.208 ha atau surplus 6.400 ha.

“Dengan capaian ini, Sragen meraih peringkat kedua se-Jawa Tengah”, kata Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi selaku Penanggungjawab Upsus Pajale Tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Prestasi ini, tambahnya, berkat perluasan tanam padi gogo hingga 5.250 hektar. Ia berharap, prestasi capaian ini ditularkan kepada Kecamatan lain sehingga berdampak luas pada peningkatan produksi padi.

Suwandi menjelaskan sejumlah strategi untuk menggenjot produksi padi di Sragen. Pertama, melakukan tabela (tanam benih langsung) padi gogo pada saat musim gadu dan disaat air terbatas Kedua, mengembangkan pola tumpangsari berbagai tanaman dan palawija. Ketiga, percepat tanam dengan sistem methuk, serta keempat pemanfaatan pematang sawah untuk ditanam jagung, kacang, kedelai, refugia dan lainnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA