Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Akademisi: Teknologi Jadikan Lahan Kering untuk Pertanian

Rabu 31 Okt 2018 15:29 WIB

Red: EH Ismail

 Dekan Fakultas Pertanian Univesitas Lampung, Irwan Sukri Banuwa dalam Lokakarta Pemugaran Lahan Kering Bereaksi Asam dan Marginal, beberapa waktu lalu.

Dekan Fakultas Pertanian Univesitas Lampung, Irwan Sukri Banuwa dalam Lokakarta Pemugaran Lahan Kering Bereaksi Asam dan Marginal, beberapa waktu lalu.

Pemugaran lahan kering dapat dilakukan dengan pendekatan konservasi tanah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Optimalisasi lahan kering masam dan marginal untuk perluasan areal pertanian menjadi solusi di tengah makin berkurangnya lahan pertanian. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan luas lahan baku sawah tinggal sebesar 7,1 juta hektare (ha).

Data menyebutkan, total sumberdaya lahan di Indonesia sekitar 188,2 juta ha. Terdiri dari lahan kering 140 juta ha dan lahan basah sekitar 40 juta ha. Menurut Dekan Fakultas Pertanian Univesitas Lampung, Irwan Sukri Banuwa, dari total lahan kering tersebut  seluas 102,8 juta ha merupakan lahan kering bereaksi masam. Lahan tersebut berada di Pulau Sumatera seluas 29,3 juta ha, khusus di Lampung ada sekitar 2,65 juta ha.

“Dari total lahan kering asam itu yang sesuai untuk usaha pertanian sekitar 56,3 juta ha,” kata Irwan dalam Lokakarta Pemugaran Lahan Kering Bereaksi Asam dan Marginal, beberapa waktu lalu.

Irwan mengatakan, beberapa ciri lahan kering bereakasi masam adalah memiliki pH rendah (4,6-5,5), kejenuhan basa rendah (50%), kadar bahan organik rendah, kejenuhan Al yang tinggi, fiksasi hara P tinggi dan secara umum memiliki kesuburan yang rendah. “Untuk pemugaran lahan kering bereaksi masam tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan konservasi tanah dan air,” ujarnya.

Salah satu  bentuk konservasi tanah dan air (KTA) adalah dengan pendekatan WOCAT (World Overview of Conservation Approachs and Technologies). Bentuk KTA secara agronomi adalah penggunaan pupuk buatan, seperti dolomit. Tindakan KTA bertujuan memperbaiki kondisi kesuburan tanah.

Berdasarkan hasil penelitian erosi menunjukkan, tindakan KTA mampu mengendalikan kehilangan hara. Bahkan penambahan dolomit dikombinasikan dengan tindakan KTA mampu meningkatkan produktivitas tanaman. Hal itu terjadi karena meningkatnya pH tanah, unsur hara P menjadi tersedia, menambahkan hara Ca dan Mg dan mengurangi kehilangan hara akbiat erosi.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Muhajir Utomo menambahkan, potensi lahan kering masam apabila dikelola dengan baik akan lebih produktif dibandingkan dengan lahan basah/sawah. Hal ini seiring dengan kelangkaan air irigasi untuk mengelola lahan basah/sawah.

Namun, pengelolaan lahan kering bereaksi masam akan lestari atau berkelanjutan jika memperhatikan aspek ekonomi, sosial dan aspek lingkungan/ekologi. Kunci keberhasilan pengelolaan lahan kering bereaksi masam adalah dengan penambahan bahan organik yang bersifat in-situ (dari usaha tani itu sendiri). “Penambahan bahan organik dan dolomit akan mampu memperbaiki kondisi fisik tanah, kimia tanah dan kesuburan tanah,” katanya.

Paket Teknologi

Kepala Balai Penelitian Tanah (Balit Tanah), Badan  Litbang Kementerian Pertanian, Husnain mengatakan, pihaknya telah menyiapkan paket teknologi untuk memperbaiki kondisi fisika tanah antara lain dengan penambahan bahan organik, bio-char, dan soil conditioner. Sedangkan untuk memperbaiki kualitas kimia tanah dan biologi tanah dengan penambahan kapur/dolomit, penambahan batuan phospat, mikoriza, bahan organik, dan  mikroba pelarut hara P.

“Salah satu yang harus diperhatikan dalam aplikasi dolomit/kapur untuk memperbaiki kualitas lahan kering bereaksi masam adalah dosis dolomit/kapur, waktu aplikasi dan kualitas dolomit/kapur,” kata Husnain.

Salah satu paket teknologi yang sudah diujicoba selama lima musim tanam adalah mengkombinasikan dolomit dan bahan organik  pada tanaman jagung dengan berbagai dosis mampu meningkatkan produktivitas tanaman.

Sementara Guru Besar Univesitas Sirwijaya, Dedik Budianta mengatakan, Secara umum manfaat kapur/dolomit adalah menaikkan pH, mengurangi dampak keracunan Al, meningkatkan ketersediaan hara Ca, Mg dan P, serta meningkatkan aktivitas biologi tanah. Apabila dolomit dikombinasikan dengan bahan organik dengan dosis yang tepat akan mampu meningkatkan produktivitas tanaman pertanian di lahan kering yang bereaksi masam.

“Hasil penelitian menunjukkan aplikasi dolomit dengan bahan organik pada budidaya tanaman kedelai secara nyata mampu meningkatkan produktivitas tanaman. Dengan dolomit, produktivitas tanaman kedelai meningkat hampir tiga kali lipat,” ujarnya. *

 

 

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES