Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Kenaikan Harga Telur dan Ayam Komplikasi Beragam Faktor

Kamis 12 Jul 2018 16:20 WIB

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Teguh Firmansyah

Petugas dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak ketersediaan telur ayam di pasar Pahing, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (10/7). Sepekan terakhir harga telur ayam terus mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp21.000 menjadi Rp26.000 per kilogram karena pasokan telur menurun hingga 30 persen akibat cuaca buruk.

Petugas dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak ketersediaan telur ayam di pasar Pahing, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (10/7). Sepekan terakhir harga telur ayam terus mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp21.000 menjadi Rp26.000 per kilogram karena pasokan telur menurun hingga 30 persen akibat cuaca buruk.

Foto: Prasetya Fauzani/Antara
Menurunnya produktivitas ayam juga dipengaruhi oleh cuaca ekstrem dan pakan.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Harga telur ayam yang mengalami lonjakan di pasaran disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya karena kelangkaan DOC (anak ayam umur sehari-red), naiknya harga pakan, hingga kenaikan harga BBM.

Hal ini disampaikan Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Sukabumi menyikapi kenaikan harga telur dan daging ayam akhir-akhir ini. "Kami telah melakukan analisa penyebab kenaikan harga telur ayam dan daging ayam," ujar Kepala Disnak Kabupaten Sukabumi, Iwan Karmawan kepada wartawan, Kamis (12/7).

Penyebab pertama yakni terjadinya kelangkaan DOC yang berdampak pada kenaikan harga. Saat ini harga DOC meningkat dari Rp 5.000 per ekor menjadi Rp 7.000 per ekor.

Kondisi ini terang Iwan menyebabkan kapasitas kandang terpasang peternak ayam broiler dan layer mayoritas kosong. Selain itu unggas banyak yang dijual pada saat puasa dan lebaran karena harga tinggi akibat permintaan yang naik.

Kenaikan harga telur dan daging, lanjut Iwan, dikarenakan naiknya harga pakan Rp 500 per kilogram. Kenaikan harga pakan karena bahan baku impor dan terjadi pelemahan nilai tukar rupiah. Peningkatan harga juga akibat harga BBM naik yang berdampak pada naiknya biaya transportasi.

Di sisi lain ungkap Iwan, produktivitas ayam mengalami penurunan. Sebabnya kualitas pakan buruk, cuaca ekstrem, dan kejadian kasus penyakit.

Iwan menuturkan, kenaikan harga produk peternakan belum menjamin peternak untung. Hal ini dikarenakan naiknya biaya operasional dari Rp 17 ribu per kilogram menjadi Rp 21 ribu per kilogram panen.

Baca juga, Harga Telur Ayam Sentuh Rekor Tertinggi Tahun Ini.

Faktor lainnya yakni adanya pelarangan antibiotic growth promoter untuk menjamin keamnanan pangan produk peternakan. Dampaknya ayam kerdil dan efisiensi rendah.

Harga telur ayam di pasar Kabupaten Sukabumi melonjak berkisar antara Rp 32 ribu hingga Rp 33 ribu per kilogram. Harga tersebut merupakan harga tertinggi yang pernah dicapai pada tahun ini.

Kenaikan ini, menurut Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Sukabumi Iwan Karmawan, disebabkan berkurangnya pasokan telur ayam ke pasaran dibandingkan sebelumnya. "Ketersediaan atau pasokan telur ayam memang berkurang," ujar Iwan kepada wartawan, Rabu (11/7). Kondisi tersebut menyebabkan harga telur ayam mengalami lonjakan.

Saat ini, harga telur ayam di pasar tradisional mencapai Rp 32 ribu hingga Rp 33 ribu per kilogram. Pada kondisi normal berada di kisaran Rp 24 ribu per kilogram.

Selain telur ayam, harga komoditas daging ayam juga mengalami kenaikan. Saat ini harga daging ayam mencapai Rp 42 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram.

Menurut Iwan, kenaikan harga daging ayam juga karena penyebab yang sama, yakni berkurangnya pasokan. Dengan begitu, saat ini petugas Disnak terus memantau ketersediaan telur ayam dan daging ayam di pasaran. Pasalnya, ketersediaan ini akan menentukan harga dua komoditas tersebut di pasaran.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES