Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Kementan: Puasa Surplus 7.000 Ton Daging

Selasa 15 May 2018 17:25 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Teguh Firmansyah

Pedagang memotong daging sapi di pasar tradisional. ilustrasi

Pedagang memotong daging sapi di pasar tradisional. ilustrasi

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Stok daging kerbau di gudang Bulog mencapai 4.175 ton.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan adanya surplus daging sebesar 7.000 ton. Surplus tersebut khusus terjadi pada Mei-Juni.

"Intinya, untuk puasa kita surplus 7.000 ton dari sapi, kerbau, semua daging," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita, Selasa (15/5). Stok surplus tersebut berasal dari empat sumber yakni daging sapi, daging kerbau, bakalan dan jeroan.

Direktur Pengadaan Bulog Andrianto Wahyu Adi menambahkan, stok daging kerbau di gudang Bulog mencapai 4.175 ton. Selain itu, ada 14.028 ton daging yang sedang dalam perjalanan untuk masuk ke Indonesia. "Sebelum Lebaran akan masuk sekitar 16 ribu hingga 20 ribu ton," ujarnya.

Baca juga,  Kemendag: Kuota Impor Daging Sapi tak Dibatasi.

Angka tersebut berasal dari total kontrak impor 32.500 ton pada Januari-Juni. Ia menambahkan, tidak ada pengadaan daging kerbau impor India hingga Juli. Daging kerbau beku ini dijual Bulog dengan harga Rp 61 ribu hingga Rp 63 ribu per kilogram (kg). Sementara batas maksimal dijual kepada konsumen akhir tidak boleh lebih dari Rp 80 ribu per kg.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengimbau masyarakat untuk tak perlu khawatir dalam mengonsumsi daging beku sebagai alternatif mahalnya harga daging segar.

"Daging beku pada dasarnya lebih sehat, tidak ada hotel restoran yang di negara-negara maju yang memasak daging lokal. Daging beku itu bakterinya sudah mati dulu, itu yang perlu kita tekankan," ujar Enggar saat melakukan sidak ke Pasar Andir Kota Bandung, Sabtu (5/5).

Enggar mengatakan, hingga kini banyak masyarakat yang enggan mengonsumsi daging beku, karena dianggap tidak higienis. Namun kata dia, anggapan tersebut sebenarnya tidak benar."Lebih higienis juga dan kita akan menyiapkan menjual itu (daging beku),"kata dia.

Meski begitu, apabila masyarakat tetap ingin mengonsumsi daging segar, pemerintah tentu akan menyiapkannya dengan harga terjangkau atau sebesar Rp80 ribu untuk daging lokal."Kami tidak memaksakan daging importnya, tapi pada dasarnya rakyat harus diberikan pilihan, mau daging segar, tapi daging yang terjangkau Rp 80 ribu harus tersedia," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES