Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Mentan Optimistis Indonesia Jadi Pemasok Pangan Utama Dunia

Jumat 09 Maret 2018 05:17 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Bayu Hermawan

Menteri Pertanian Amran Sulaiman

Menteri Pertanian Amran Sulaiman

Foto: dok. Humas Kementan
Kementan menargetkan Indonesia jadi pemasok bahan pangan utama dunia pada 2045.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementrian Pertanian RI telah menetapkan target untuk menjadi pemasok bahan pangan utama di dunia pada 2045 mendatang. Di depan organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) pada pertemuan bilateralnya di sela-sela kegiatan The Fourth Jakarta Food Security Summit (JFSS-4) di Jakarta Convention Center Senayan, Kamis (8/3), Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman optimistis target itu akan tercapai.

"Target itu akan tercapai engan mempertimbangkan besarnya sumberdaya yang ada di Indonesia termasuk besarnya keanekaragaman hayati dan ekosistem pertanian, luasnya potensi lahan subur untuk pertanian, melimpahnya tenaga kerja, tersedianya inovasi dan teknologi, dan besarnya potensi pasar dalam negeri dan internasional," kata Amran dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Kamis.

Asisten Dirjen FAO, Kundhavi Kadiresan mengapresiasi atas capaian Pemerintah RI pada sektor pertanian. Khususnya pelaksanaan program asuransi pertanian dan sistem informasi pemantauan pertanian. "Asuransi pertanian (khususnya crop insurance) Indonesia dapat diterapkan dengan baik, di negara lain tidak mudah menerapkan program asuransi," kata Kadiresan.

Dia yang juga Kepala FAO Regional Bangkok (ADG FAO Bangkok) itu juga mengapresiasi sistem informasi kalender tanam berbasis teknologi yang dapat diakses secara cepat oleh petani dan penyuluh melalui smartphone. Selain itu ia juga mengaperesiasi upaya Pemerintah RI untuk mendorong pengaplikasian e-agricultural secara lebih luas.

Kadiresan juga menuturkan, Indonesia memiliki peluang untuk mengekspor produk pertaniannya dengan adanya kenaikan produksi yang telah dialami Indonesia. "Untuk memasarkan produk pertanian ke luar negeri, produk itu sendiri harus berdaya saing, efisien, dan spesifik, misalnya produk pertanian organik," kata dia.

Ia lalu menyampaikan harapannya, agar Indonesia dapat menjadi promotor sistem pertanian Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) dan Organik. LEISA sendiri merupakan sistem pertanian berkelanjutan dengan input luar yang rendah dan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan efisien.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES